Thucydides Traps: Hubungan Amerika dan China
Hubungan Amerika dan China mengalami ketegangan kembali pasca Donald Trump memberlakukan tarif baru. Presiden Donald Trump memberikan tarif import sebesar 104 persen. Keputusan ini menandakan perang dagang kembali antara dua kekuatan ekonomi terbesar dunia, Dampaknya akan mempengaruhi pasar keuangan global dan potensi resesi iinternasional
Di sisi lain, perang dagang ini bukanlah sesuatu yang baru melainkan bentuk persaingan dua negara besar yang harus dimenangkan untuk menjadi negara terkuat. Fenomena persaingan ini bisa disebut dengan Thucydides Trap. Amerika Serikat merupakan kekuatan besar dan dominan pasca Perang Dunia berakhir. Sedangkan, China sebagai rising power dengan kekuatan ekonomi sehingga berpotensi untuk mengganti dominasi Amerika Serikat.
Thucydides Trap adalah suatu kondisi kemunculan negara baru yang mengancam eksistensi negara superpower. Konsep ini berasal dari kisah Peloponnesian War menceritakan Athena menjadi kekuatan baru sehingga mengancam kekuasaan Sparta di Yunani. Akan tetapi, akhir dari konsep ini mengarah pada peperangan. Ini terjadi juga pada dinamika hubungan Amerika dan China. China sebagai negara baru dengan kekuatan ekonomi dipandang ancaman bagi Amerika.
Realitas ini yang mengkonstruksikan China menjadi musuh atau pesaing baru untuk Amerika. Untuk sementara, China dan Amerika belum pernah terlibat atau terjadi perang terbuka. Kedua negara menunjukkan ketegangan ekonomi dalam bentuk perang tarif.
Dalam studi hubungan internasional ada yang disebut dengan teori konstruktivisme. Amerika telah mengkonstruksi melalui framing bahwa China ingin menggeser dominasi Amerika dalam perpolitikan global. Kenyataanya adalah China tidak berambisi untuk menjadi kekuatan dominan melainkan membangun mitra strategi bersama negara-negara berkembang.
Di sisi lain, Amerika merasa terancam dengan kekuatan China dimana Amerika tidak ingin kehilangan slogan “negara superpower satu-satunya di dunia”. Padahal suatu hubungan antar negara harus bersifat balance of power atau membentuk keseimbangan.
Tujuannya adalah membangun stabilitas global sehingga menghindarkan satu negara dengan kekuatan besar yang berpotensi melakukan monopoli baik ekonomi maupun politik. Kosep Thucydides Trap sangat mewakili hubungan Amerika dan China untuk konteks perang dagang.
Perang dagang (kebijakan tarif) sebagai tools bagi Amerika melihat kekuatan China yang semakin meningkat dan tidak terbendung oleh Amerika. Sebaliknya, China memandang penetapan kenaikan tarif sebagai tindakan monopoli Amerika yang berdampak pada ekonomi global.
Imbasnya, China menetapkan kenaikan tarif terhadap beberapa produk import Amerika. Berbeda dengan negara lainnya termasuk Indonesia, dimana China melakukan perlawanan melalui kenaikan tarif. China memiliki kekuatan ekonomi besar dan pengaruh politik yang kuat secara global sehingga menjadi balance of power bagi Amerika.
Pada intinya, persaingan global adalah sesuatu yang tidak bisa dihindarkan. Kontestasi China dan Amerika akan terus berlanjut sesuai konsekuensi Thucydides Traps. Sekalipun terjadi kerjasama antara Amerika dan China belum bisa menjamin berakhirnya persaingan dua negara besar tersebut. Kemudian, negara-negara di dunia harus memastikan bahwa perang dagang Amerika dan China tidak berdampak pada penguatan intensitas militer yang berpotensi terjadinya perang terbuka.


