BERITA TERBARU
Kemenpar dan KJRI Hong Kong Dukung Greater Bay Airlines Buka Rute Hong Kong-Surabaya Suarakan Kepentingan Perdagangan Nasional,Mendag Busan Bertolak ke AS Hadiri G20 Harga iPhone Naik Signifikan! Inilah Penyebab dan Dampaknya bagi Konsumen Cara Mudah Move On! Lepaskan Lalu, Buka Lembaran Baru Seiring Hari Pariwisata Dunia, Menteri Pariwisata Luncurkan Indonesia Tourism Outlook 2026/2027 Kini Cetak SIM Cukup di Kios SIM, Cepat, Praktis, Tanpa Antre Panjang Taman Bunga Celosia Semarang, Pesona Warna yang Menggugah Senyum Kota Buka Pelatihan SSTC 2026, Kemendag Dorong Penguatan Kemitraan Perdagangan dan Investasi Indonesia–Afrika Ketegangan Meningkat! Iran Mulai Langkah Balasan, Inggris Diduga Jadi Sasaran Pemutihan Pajak 2026! Kesempatan Emas Tertibkan Kewajiban Negara
TRAVEL

Bandara Jakarta Ditutup 2 Hari Akibat Abu Vulkanik, Ribuan Penumpang Beralih ke Bus

Bandara Jakarta Ditutup 2 Hari Akibat Abu Vulkanik, Ribuan Penumpang Beralih ke Bus
dok. capt: Bandara Jakarta Ditutup 2 Hari Akibat Abu Vulkanik (Foto/Pinterest)

Bandara Internasional Soekarno-Hatta dan Bandara Halim Perdanakusuma di Jakarta ditutup sementara selama dua hari penuh akibat sebaran abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau. Ribuan penerbangan dibatalkan dan puluhan ribu penumpang terdampak. Karena tidak dapat terbang, masyarakat terpaksa beralih ke moda transportasi darat, terutama bus antarkota antarprovinsi (AKAP), sehingga terjadi lonjakan jumlah penumpang hingga 45 persen lebih tinggi dari biasanya. Pihak pengelola bandara juga menyiapkan bus gratis menuju bandara alternatif demi meringankan beban penumpang.

Penutupan ini diputuskan oleh Kementerian Perhubungan melalui AirNav Indonesia, dengan Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi yang memimpin langsung penanganan situasi. Dampak dirasakan oleh puluhan ribu calon penumpang, maskapai penerbangan, hingga perusahaan bus antarkota yang tiba-tiba kebanjiran peminat. InJourney Airports selaku pengelola bandara turun menyiapkan transportasi pengganti bagi penumpang yang terdampak.

Penutupan berlangsung sejak Sabtu, 6 September 2026, dan diperpanjang hingga Senin, 7 September 2026, pukul 23.59 WIB. Selama kurang lebih dua hari penuh, tidak ada pesawat yang lepas landas maupun mendarat di kedua bandara utama Jakarta. Operasional baru kembali dibuka sepenuhnya pada Selasa dini hari, 8 September 2026.

Penutupan berlaku untuk Bandara Internasional Soekarno-Hatta dan Bandara Halim Perdanakusuma. Penerbangan dialihkan ke bandara alternatif seperti Kertajati, Juanda Surabaya, Ahmad Yani Semarang, dan YIA Yogyakarta. Sementara penumpang yang memilih melanjutkan perjalanan lewat darat memadati terminal-terminal bus di berbagai kota besar di seluruh Jawa.

Penutupan dilakukan demi keselamatan penerbangan. Abu vulkanik yang melayang di udara dapat merusak mesin pesawat, menurunkan jarak pandang pilot, serta mengganggu sistem navigasi. Hasil pemeriksaan menunjukkan sebaran abu masih cukup tebal dan berbahaya, sehingga penutupan harus diperpanjang hingga kondisi dinyatakan aman. Karena tidak bisa menunggu lebih lama, banyak penumpang yang terpaksa membatalkan penerbangan dan mencari alternatif tercepat yaitu bus.

Setelah bandara resmi ditutup, maskapai membatalkan ratusan penerbangan dan menawarkan pengembalian dana atau penjadwalan ulang. Penumpang yang tidak bisa menunggu berbondong-bondong membeli tiket bus, sehingga terjadi kelonjakan pembelian tiket hingga 45 persen. Menyikapi hal tersebut, pihak bandara menyiapkan delapan unit bus gratis yang melayani rute ke Yogyakarta, Solo, Semarang, dan Surabaya. Sementara itu, perusahaan bus swasta juga menambah jumlah armada guna memenuhi lonjakan permintaan yang mendadak melonjak tajam.

Mengutip dari Viva.co.id, Menteri Perhubungan, Dudy Purwagandhi memberikan penjelasannya. “Bagi penumpang yang maskapainya memindahkan penerbangan ke bandara alternatif tersebut, disediakan transportasi alternatif melalui darat berupa bus dan kereta api tanpa dipungut biaya,” ungkapnya saat diwawancara media.

Peristiwa ini menjadi pelajaran berharga bahwa saat moda udara terhenti, moda darat menjadi urat nadi penyambung kehidupan. Kerja sama antara pemerintah dan penyedia jasa transportasi menjadi kunci agar masyarakat tetap bisa beraktivitas meski alam sedang tak bersahabat.