BERITA TERBARU
Bincang Mendag Busan dengan UMKM di NTB, Dorong Perluasan Pasar Domestik dan Jajaki Ekspor FLPP Ngebut, Realisasi Capai Lebih Dari 200 Ribu Unit Saat Rocky Gerung Sebut DPD RI Sebagai Dewan Penuntun Demokrasi RI Ubah Limbah Sawit Jadi Pakan Bernilai, TEP UNAIR Dampingi Peternak di Prafi Kementerian PU Gerak Cepat Pulihkan Konektivitas Aceh – Sumut yang Terdampak Longsor Kemenpar Gelar AK-RT 2026 untuk Tingkatkan Kunjungan Wisatawan ASEAN dan Korea Kementerian PU Tinggikan Jalan Nasional Semarang-Demak, Kurangi Genangan Rob Kaligawe Jelang Nataru 2026/2027 Dari Jagung SPHP hingga Pengawasan Integrator, Mentan Amran Tegas Perkuat Peternak Rakyat Perkuat Sinergi, Mendag Busan Buka Pasar Murah di Mataram Jaga Harga Bapok Soroti Insiden Penembakan di Pulo Keunari, Tgk Ahmada: Rakyat Harus Dilindungi, Bukan Ditakuti!
NASIONAL

Menaker Tekankan Produktivitas Perusahaan Harus Sesuai Kebutuhan Pasar

Menaker Tekankan Produktivitas Perusahaan Harus Sesuai Kebutuhan Pasar
dok. Kemnaker

Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli menekankan bahwa peningkatan produktivitas perusahaan harus diiringi kemampuan menghasilkan produk berkualitas yang sesuai kebutuhan pasar. Keselarasan itu, menurutnya, menjadi kunci menciptakan nilai tambah dan memperkuat daya saing industri nasional.

Pernyataan tersebut disampaikan Menaker dalam Evaluasi Kegiatan Pendampingan Peningkatan Produktivitas di Jakarta, Selasa (3/11/2026).

Pendampingan peningkatan produktivitas ini merupakan proyek percontohan (pilot project) baru Kemnaker berupa intervensi pemerintah kepada 20 perusahaan agar produktivitasnya meningkat. Pendampingan berjalan sejak September, dan pada evaluasi ini sejumlah perusahaan memaparkan progres selama dua bulan.

Yassierli menyatakan, produktivitas tidak cukup dibangun lewat perbaikan proses produksi di internal pabrik atau kantor. Perusahaan juga perlu menerapkan pendekatan 4P+1M, yaitu proses kerja (process), kualitas produk (product), kompetensi sumber daya manusia (people), kebijakan perusahaan (policy), dan pemasaran (marketing).

Dari kelima unsur itu, Yassierli menilai pemahaman terhadap kebutuhan pasar perlu mendapat perhatian khusus. Peningkatan kapasitas produksi tidak akan bermakna jika perusahaan gagal membaca peluang dan memastikan produknya memiliki pasar yang jelas.

“Peningkatan produktivitas ini tidak akan berdampak nyata jika pasarnya tidak mampu menyerap produk tersebut,” ujarnya.

Ia juga menegaskan bahwa setiap pendampingan produktivitas harus menghasilkan manfaat ekonomi yang terukur. Pendekatan pendampingan yang terukur dan terstruktur, kata dia, diharapkan menjadi landasan untuk memperluas cakupan program. Jika proyek percontohan ini berhasil, pendampingan direncanakan diperluas ke lebih banyak perusahaan tahun depan.

“Jika saat ini pendampingan baru menjangkau puluhan perusahaan, ke depannya program tersebut harus mencakup ribuan bahkan ratusan ribu perusahaan,” ujar Yassierli.

Direktur Jenderal Pembinaan Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (Binalavotas) Darmawansyah mengatakan, peningkatan produktivitas perusahaan merupakan bagian dari upaya Kemnaker memperkuat sisi permintaan tenaga kerja (demand). Upaya itu berjalan beriringan dengan penguatan sisi penawaran sumber daya manusia (supply) melalui pelatihan vokasi dan pemagangan.

“Jadi, kita melakukan intervensi dari sisi supply melalui pelatihan vokasi dan pemagangan, kemudian dari sisi demand melalui peningkatan produktivitas perusahaan,” kata Darmawansyah.