BERITA TERBARU
Kemenpar dan KJRI Hong Kong Dukung Greater Bay Airlines Buka Rute Hong Kong-Surabaya Suarakan Kepentingan Perdagangan Nasional,Mendag Busan Bertolak ke AS Hadiri G20 Harga iPhone Naik Signifikan! Inilah Penyebab dan Dampaknya bagi Konsumen Cara Mudah Move On! Lepaskan Lalu, Buka Lembaran Baru Seiring Hari Pariwisata Dunia, Menteri Pariwisata Luncurkan Indonesia Tourism Outlook 2026/2027 Kini Cetak SIM Cukup di Kios SIM, Cepat, Praktis, Tanpa Antre Panjang Taman Bunga Celosia Semarang, Pesona Warna yang Menggugah Senyum Kota Buka Pelatihan SSTC 2026, Kemendag Dorong Penguatan Kemitraan Perdagangan dan Investasi Indonesia–Afrika Ketegangan Meningkat! Iran Mulai Langkah Balasan, Inggris Diduga Jadi Sasaran Pemutihan Pajak 2026! Kesempatan Emas Tertibkan Kewajiban Negara
TREN

Langit Singapura Mendadak Kelabu, Dibekap Kabut Asap dari Kebakaran Hutan dan Lahan

Langit Singapura Mendadak Kelabu, Dibekap Kabut Asap dari Kebakaran Hutan dan Lahan
dok. capt: Langit Singapura Mendadak Kelabu (Foto/Pinterest)

Kualitas udara di seluruh wilayah Singapura mengalami penurunan tajam dalam beberapa hari terakhir, dengan langit yang tampak pekat dan berwarna kekuningan akibat tebalnya kabut asap. Badan Lingkungan Nasional Singapura melaporkan bahwa Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) telah naik ke tingkat tidak sehat, terutama di wilayah barat dan selatan negara itu. Partikel halus yang melayang di udara menutupi pemandangan ikonik kota tersebut, hingga gedung-gedung tinggi sulit terlihat jelas dari kejauhan.

Kabut asap ini dirasakan langsung oleh warga Singapura, pekerja luar ruangan, serta wisatawan yang sedang berkunjung. Pemerintah Singapura melalui Badan Lingkungan Nasional (NEA) terus memantau perkembangan dan menyampaikan peringatan dini kepada masyarakat. Para ahli meteorologi juga turut menganalisis arah pergerakan angin untuk memprediksi kapan kondisi akan membaik.

Kondisi langit yang dibekap asap mulai terlihat jelas sejak awal September 2026. Puncak tebalnya kabut terjadi pada pertengahan minggu pertama bulan tersebut, saat angin bertiup kencang dari arah barat daya dan membawa kepulan asap menyeberangi perairan hingga ke wilayah Singapura.

Seluruh wilayah Singapura merasakan dampaknya, namun konsentrasi asap terlihat paling tebal di kawasan barat dan selatan yang berada searah tiupan angin. Kepulan asap tersebut berasal dari wilayah Sumatera dan Kalimantan di Indonesia, terbawa angin menyeberangi Selat Malaka hingga menyelimuti udara di atas Singapura.

Penyebab utamanya adalah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang meluas di beberapa provinsi di Indonesia, terutama di wilayah yang memiliki lahan gambut kering. Musim kemarau yang panjang membuat tanah dan vegetasi menjadi sangat kering, sehingga api mudah menyala dan sulit dipadamkan. Angin yang bertiup dari arah barat daya membawa kepulan asap hasil pembakaran itu melintasi batas negara dan menumpuk di atmosfer Singapura, menutupi sinar matahari dan menurunkan kualitas udara secara drastis.

Kepulan asap terbawa oleh aliran udara yang bergerak konsisten dari arah barat daya. Asap yang mengandung partikel debu halus, zat kimia, dan bahan beracun melayang tinggi di udara sebelum turun menebal di wilayah Singapura. Karena tiupan angin belum berubah arah dan curah hujan masih sangat minim, asap terus menumpuk dan menciptakan lapisan kabut pekat yang menyelimuti langit. Akibatnya, jarak pandang menjadi terbatas dan kadar polutan di udara melonjak naik hingga melampaui batas aman kesehatan.

Mengutip dari Channel News Asia, Perwakilan Badan Lingkungan Nasional Singapura memberikan keterangan. “Kami memantau bahwa kabut asap ini terbawa angin dari arah barat daya dan diperkirakan akan berkurang secara bertahap seiring perubahan pola angin yang diprediksi terjadi dalam beberapa hari ke depan,” ujarnya saat diwawancara media.

Kondisi ini kembali mengingatkan bahwa kebakaran hutan dan lahan adalah masalah lintas negara yang membutuhkan kerja sama serentak. Selama api belum padam di sumbernya, negara-negara tetangga tetap akan merasakan dampak kabut asap yang tak mengenal batas wilayah.