BERITA TERBARU
Kemenpar dan KJRI Hong Kong Dukung Greater Bay Airlines Buka Rute Hong Kong-Surabaya Suarakan Kepentingan Perdagangan Nasional,Mendag Busan Bertolak ke AS Hadiri G20 Harga iPhone Naik Signifikan! Inilah Penyebab dan Dampaknya bagi Konsumen Cara Mudah Move On! Lepaskan Lalu, Buka Lembaran Baru Seiring Hari Pariwisata Dunia, Menteri Pariwisata Luncurkan Indonesia Tourism Outlook 2026/2027 Kini Cetak SIM Cukup di Kios SIM, Cepat, Praktis, Tanpa Antre Panjang Taman Bunga Celosia Semarang, Pesona Warna yang Menggugah Senyum Kota Buka Pelatihan SSTC 2026, Kemendag Dorong Penguatan Kemitraan Perdagangan dan Investasi Indonesia–Afrika Ketegangan Meningkat! Iran Mulai Langkah Balasan, Inggris Diduga Jadi Sasaran Pemutihan Pajak 2026! Kesempatan Emas Tertibkan Kewajiban Negara
TREN

Berangkat Membawa Berita, Pulang Tanpa Kabar! Pencarian Jurnalis yang Hilang di Anak Krakatau

Berangkat Membawa Berita, Pulang Tanpa Kabar! Pencarian Jurnalis yang Hilang di Anak Krakatau
dok. Capt: Pencarian Jurnalis yang Hilang di Anak Krakatau (Foto/Pinterest)

Budi Santoso (38 tahun), seorang jurnalis senior dari harian bernasional Sinar Indonesia, yang telah bertugas meliput peristiwa alam selama lebih dari 12 tahun. Ia berangkat ke lokasi didampingi satu rekan wartawan, namun keduanya terpisah saat cuaca berubah drastis.

Hilangnya kontak dengan jurnalis tersebut saat sedang meliput peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau. Tim penyelamat hingga kini belum menemukan jejaknya, meskipun pencarian telah digelar sejak sore hari.

Peristiwa itu terjadi pada Jumat (11/9/2026) sekitar pukul 14.30 WIB, saat awan panas dan kabut tebal tiba-tiba menutupi kawasan perbukitan di sekitar perairan Selat Sunda tempat ia bertugas. Lokasi kejadian berada di kawasan perairan dan pesisir dekat Gunung Anak Krakatau, tepatnya di zona pantai timur Pulau Rakata, yang masuk dalam wilayah administrasi Kabupaten Pandeglang, Banten.

Korban berada di lokasi untuk meliput secara langsung peningkatan status gunung dari Waspada menjadi Siaga yang ditetapkan Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral pada pagi hari yang sama. Ia ingin menyampaikan kepada masyarakat kondisi terkini serta imbauan keselamatan bagi warga sekitar.

Kronologi kejadian awalnya Budi tiba di lokasi pada siang hari bersama tim. Saat sedang mengambil gambar dan mewawancarai warga, arah angin berubah cepat, kabut tebal turun, disertai turunnya abu vulkanik halus. Rekannya yang sempat berjalan beberapa meter terpisah tidak lagi melihat sosoknya. Panggilan telepon tidak tersambung, dan sinyal komunikasi di kawasan itu terputus. Tim gabungan SAR, kepolisian, dan petugas gunung segera dikerahkan, namun visibilitas yang sangat rendah serta medan yang licin dan berbahaya menghambat proses pencarian.

Mengutip dari ANTARA News, Ketua Tim Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau, Heru Susanto, menyampaikan harapannya. “Kami berdoa rekan wartawan itu masih dalam keadaan selamat, namun kondisi alam saat ini sungguh tidak memihak; setiap langkah ke depan kami lakukan dengan sangat hati-hati demi keselamatan semua pihak, dan kami berharap ia segera ditemukan,” ujarnya saat diwawancara.

Hingga berita ini diturunkan, operasi pencarian terus diperluas ke area pesisir terdekat dan perairan dangkal di sekitar gunung. Pemerintah mengimbau seluruh warga maupun awak media agar tidak mendekat ke area berbahaya tanpa izin resmi, mengingat aktivitas letusan masih berpotensi meningkat sewaktu-waktu.