BERITA TERBARU
Kemenpar dan KJRI Hong Kong Dukung Greater Bay Airlines Buka Rute Hong Kong-Surabaya Suarakan Kepentingan Perdagangan Nasional,Mendag Busan Bertolak ke AS Hadiri G20 Harga iPhone Naik Signifikan! Inilah Penyebab dan Dampaknya bagi Konsumen Cara Mudah Move On! Lepaskan Lalu, Buka Lembaran Baru Seiring Hari Pariwisata Dunia, Menteri Pariwisata Luncurkan Indonesia Tourism Outlook 2026/2027 Kini Cetak SIM Cukup di Kios SIM, Cepat, Praktis, Tanpa Antre Panjang Taman Bunga Celosia Semarang, Pesona Warna yang Menggugah Senyum Kota Buka Pelatihan SSTC 2026, Kemendag Dorong Penguatan Kemitraan Perdagangan dan Investasi Indonesia–Afrika Ketegangan Meningkat! Iran Mulai Langkah Balasan, Inggris Diduga Jadi Sasaran Strategi BP Tapera Mengejar 3 Bulan Terakhir di Tahun 2026
NASIONAL

Wamen Viva Yoga: Program Transmigrasi juga Memberdayakan Masyarakat Lokal

Wamen Viva Yoga: Program Transmigrasi juga Memberdayakan Masyarakat Lokal
dok. Foto: Humas Kementerian Transmigrasi / Antonius A. Giovanni

Dalam program transmigrasi, Kementerian Transmigrasi (Kementrans) tidak hanya bertanggungjawab kepada kawasan dan transmigran namun juga bertanggungjawab untuk memberdayakan masyarakat lokal sehingga dalam transmigrasi ada interaksi, komunikasi, dan integrasi sosial antara transmigran dan masyarakat setempat. 

“Kemarin saya menerima Wali Kota Subulussalam (Aceh) yang menceritakan di sana antara transmigran dan warga lokal hidup rukun dan harmonis,” ujar Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mauladi saat dirinya menjadi tamu dalam suatu program acara di salah satu stasiun televisi, Mampang, Jakarta, (13/8/2026).

Integrasi di kawasan transmigrasi inilah yang menurut Viva Yoga menjadi salah satu keyakinan bagi para bupati untuk mengajukan usulan pembukaan kawasan baru transmigrasi di daerahnya. 

“Ada 61 proposal dari para bupati yang ingin di kabupatennya dibuka kawasan baru transmigrasi,” ujarnya.

Manfaat transmigrasi dikatakan sangat besar bagi pembangunan dan pertumbuhan ekonomi di daerah sehingga meski di kabupaten sudah ada kawasan transmigrasi, mereka ingin membuka kawasan baru. Dengan membuka kawasan baru maka wilayah-wilayah yang sebelumnya tak berpenghuni atau terisolasi menjadi wilayah yang terbuka dan digali potensi-potensi yang ada. Potensi-potensi yang ada itu selanjutnya menjadi komoditas unggulan. 

“Ada kawasan transmigrasi yang potensi unggulannya, padi, sawit, kakao, coklat, durian, cengkih, kopi, tebu, serta potensi di sektor perikanan dan pariwisata,” ujarnya. 

Potensi unggulan tersebut tidak hanya untuk mencukupi kebutuhan nasional namun juga sudah ada yang diekspor. Dalam menggali potensi unggulan, Kementrans menurut Viva Yoga bekerja sama dengan 10 perguruan tinggi unggulan. Sepuluh perguruan tinggi unggulan itu adalah UI, IPB, ITB, Universitas Padjadjaran, UGM, Universitas Diponegoro, ITS, Universitas Airlangga, Univesitas Brawijaya, dan Universitas Hasanuddin. 

Dalam Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 2026 yang merupakan buah dari kerja sama Kementrans dan 10 perguruan tinggi unggulan, dikirim sebanyak 1.476 orang anggota TEP terdiri dari 39 guru besar,  158 doktor, 263 magister, dan 1.016 sarjana. Mereka dikirim ke 53 kawasan transmigrasi. 

“Tim ini mempunyai misi untuk merealisasikan hasil dari riset TEP 2025. Potensi-potensi unggulan yang ada ditindaklanjuti dalam model, prototype, dan kerja praksi,” ujarnya.

Dengan langkah nyata inilah akan membuka peluang terjadinya industrialisasi di kawasan transmigrasi dalam berbagai skala. 

“Dari sinilah muncul kawasan baru pertumbuhan ekonomi. Kawasan baru ini tidak hanya menciptakan kesejahteraan masyarakat namun juga menciptakan lapangan kerja,” pungkas Wamen Viva Yoga.