BERITA TERBARU
Harris Turino Minta Batas Defisit APBN Tetap 3 Persen Elvy Sukaesih Meriahkan HUT ke-70 Muba, Ribuan Warga Padati Lapangan Sekayu Tegaskan Pentingnya Suara Masyarakat, Pemerintah Perbarui Komitmen Sinergi SP4N-LAPOR! KAI Kooperatif dalam Proses Hukum dan Pastikan Pendampingan bagi Masinis Terkait Insiden Bekasi Timur KAI Kooperatif dalam Investigasi Keselamatan dan Tindak Lanjuti Rekomendasi KNKT Bawa Sport Tourism Indonesia ke Panggung Dunia, BRI Dukung Penuh Pertamina Grand Prix of Indonesia (MotoGP) 2026 Melalui BAZNAS RI, MINISO Salurkan Bantuan Rp62,4 Juta untuk Warga Terdampak Gempa NTT dan Ajak Perusahaan Lain Turut Berkolaborasi Lima Kabupaten/Kota Sumut Dipulihkan, Kementerian PU Percepat Layanan Air Minum dan Sanitasi Pascabencana BAZNAS RI Perkuat Legalitas Aset Hibah Muzaki, Optimalkan Manfaat bagi Umat Kemnaker Manfaatkan AI untuk Verifikasi Mitra Penyelenggara dan Peserta MagangHub
NASIONAL

Perkuat Budaya Zakat, BAZNAS RI Dorong Literasi Filantropi Modern pada Generasi Muda

Perkuat Budaya Zakat, BAZNAS RI Dorong Literasi Filantropi Modern pada Generasi Muda
dok. Baznas

Pimpinan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI Bidang Mobilisasi dan Pengumpulan Dr. H. Rizaludin Kurniawan, S.Ag., M.Si., CFR., menyampaikan pentingnya penguatan literasi filantropi Islam yang modern, khususnya di kalangan generasi muda, guna meningkatkan budaya berzakat, berinfak, dan bersedekah lintas generasi.

Hal tersebut disampaikannya saat menjadi salah satu tamu pada Sesi Inspirasi dalam acara Hari Bermuhammadiyah (HBM) 13 yang diselenggarakan di Gedung Cendekia Universitas Muhammadiyah Jakarta, Tangerang Selatan, Sabtu (5/9/2026).

Rizaludin mengatakan, penguatan literasi filantropi Islam diperlukan karena masih terdapat kesenjangan antara pengetahuan dan perilaku masyarakat dalam menunaikan zakat. Hal itu, tercermin dalam riset Indeks Literasi Zakat yang dilakukan BAZNAS secara berkala.

“Dari riset BAZNAS sejak 2020, 2022, dan 2024, ada masalah yang cukup krusial, yaitu adanya gap antara pengetahuan dan perilaku orang membayar zakat. Gap antara pengetahuan dan perilaku inilah yang bisa diukur,” ujar Rizaludin.

Menurutnya, kesenjangan tersebut menjadi perhatian karena jumlah masyarakat yang menunaikan kewajiban zakat masih relatif kecil dibandingkan dengan potensi zakat di Indonesia.

“Saya mendapatkan eksperimen sosial di kalangan anak-anak Generasi Z dengan bertanya tentang perbedaan zakat, infak, dan sedekah. Banyak di antara mereka yang tidak tahu. Bagaimana praktik membayar zakat fitrah, bagaimana zakat mal dihitung, banyak hal yang ternyata tidak mereka ketahui. Itu menjadi kekhawatiran saya sendiri,” ujarnya.

Dari kondisi tersebut, Rizaludin menilai, pendidikan filantropi Islam penting diberikan sejak dini.  Menurutnya, pembelajaran tersebut juga perlu memberikan pemahaman mengenai nilai, makna, hakikat, dampak, dan manfaat zakat sehingga pengetahuan yang diperoleh dapat mendorong perubahan perilaku.

Ia juga mengusulkan agar pendidikan filantropi Islam dilengkapi dengan praktik, seperti manasik zakat dan kegiatan ekstrakurikuler filantropi Islam.

Rizaludin menambahkan, penguatan literasi filantropi Islam tersebut juga menjadi bagian dari upaya yang dikembangkannya di BAZNAS melalui konsep value-driven dalam pengelolaan zakat. 

“Basisnya adalah value, bagaimana memahami filantropi Islam menjadi sebuah amal saleh yang nyata bagi kebangkitan umat Islam,” jelasnya.