BERITA TERBARU
Kemenpar dan KJRI Hong Kong Dukung Greater Bay Airlines Buka Rute Hong Kong-Surabaya Suarakan Kepentingan Perdagangan Nasional,Mendag Busan Bertolak ke AS Hadiri G20 Harga iPhone Naik Signifikan! Inilah Penyebab dan Dampaknya bagi Konsumen Cara Mudah Move On! Lepaskan Lalu, Buka Lembaran Baru Seiring Hari Pariwisata Dunia, Menteri Pariwisata Luncurkan Indonesia Tourism Outlook 2026/2027 Kini Cetak SIM Cukup di Kios SIM, Cepat, Praktis, Tanpa Antre Panjang Taman Bunga Celosia Semarang, Pesona Warna yang Menggugah Senyum Kota Buka Pelatihan SSTC 2026, Kemendag Dorong Penguatan Kemitraan Perdagangan dan Investasi Indonesia–Afrika Ketegangan Meningkat! Iran Mulai Langkah Balasan, Inggris Diduga Jadi Sasaran Pemutihan Pajak 2026! Kesempatan Emas Tertibkan Kewajiban Negara
NASIONAL

Pemerintah Pamerkan Inovasi Genomik RI ke Putri Mahkota Swedia

Pemerintah Pamerkan Inovasi Genomik RI ke Putri Mahkota Swedia
dok. Kemenkes

Putri Mahkota Swedia, Victoria Ingrid Alice Désirée, yang juga merupakan Goodwill Ambassador for the Sustainable Development Goals, United Nations Development Programme (UNDP), mengunjungi Balai Besar Biomedis dan Genomika Kesehatan (BB Genomika) di Gedung Eijkman, RSCM, Jakarta, Jumat (4/9). 

Kunjungan ini bertujuan meninjau langsung lompatan teknologi kedokteran presisi di Indonesia melalui program Biomedical and Genomic Science Initiative (BGSI).

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, yang menyambut langsung kunjungan kenegaraan tersebut, memaparkan transformasi riset kesehatan Indonesia. Di gedung bersejarah yang pernah melahirkan penelitian peraih Nobel Christiaan Eijkman tersebut, Menkes Budi memamerkan kemampuan riset kesehatan Indonesia yang kini telah sejajar dengan negara maju.

Menkes Budi menjelaskan bahwa dunia medis saat ini tidak lagi sekadar mencari patogen (virus atau bakteri), tetapi telah menembus pemahaman hingga ke tingkat materi genetik (DNA).

“Dulu ilmuwan berfokus pada patogen. Virus COVID-19 misalnya, hanya memiliki sekitar 30 ribu pasangan basa (base pairs) DNA, sedangkan manusia memiliki 2 miliar pasangan basa. Melalui ilmu genomik, jika ginjal seseorang rusak, kita bisa mencari tahu struktur DNA mana yang bermasalah untuk diperbaiki secara presisi,” jelas Menkes Budi.

Untuk merealisasikan pengobatan presisi (precision medicine), Kementerian Kesehatan terus menghimpun data genetik, baik dari pasien rumah sakit maupun pemeriksaan kesehatan rutin masyarakat. Saat ini, pemerintah mengklaim telah mengumpulkan sekitar 70 juta data kesehatan.

Kapasitas sekuensing (pembacaan susunan DNA) di Indonesia juga diklaim melonjak tajam. Dari 1.500 sampel pada tahun lalu, kapasitasnya kini meningkat tiga kali lipat menjadi 4.500 sampel. Menkes Budi memaparkan, peta genom ini menjadi kunci karena setiap ras memiliki profil genetik yang berbeda.

“Sebagai informasi untuk teman-teman, genom setiap ras itu berbeda-beda. Genom ras Eropa berbeda dengan ras Asia, dan berbeda pula dengan ras Afrika. Dengan memahami berbagai jenis ras ini, kita bisa tahu risiko penyakitnya. Misalnya untuk kanker payudara, ada mutasi genetik yang namanya BRCA1 dan BRCA2. Kalau setelah di-sequence ternyata ada mutasi di situ, kemungkinan besar orang tersebut akan terkena kanker. Jadi, lebih baik dirawat (di-treat) lebih awal,” paparnya.

Pencapaian infrastruktur genetik ini rupanya di luar ekspektasi dunia internasional. Menkes Budi mengungkapkan bahwa delegasi Swedia awalnya tidak menyangka Indonesia telah menjalankan program genomik berskala nasional.

“Mereka tertarik karena awalnya mereka tidak sadar bahwa Indonesia sudah melakukan ini. Program genomik ini biasanya hanya dilakukan di negara-negara maju seperti Eropa, Amerika, Inggris, atau Uni Emirat Arab. Negara-negara kaya kan warganya ingin berumur panjang. Mereka ingin hidup sampai 120 atau 130 tahun,” ungkap Menkes Budi.

“Mereka mempelajari ilmu longevity (memperpanjang umur), mencari tahu bagaimana cara tubuh manusia bekerja supaya organ tidak cepat rusak. Crown Princess Victoria begitu melihat ini, beliau kagum bahwa Indonesia mampu melakukannya,” tambahnya.

Pengelolaan data genomik ini membutuhkan infrastruktur big data berskala masif. Kemenkes saat ini telah menyimpan 4,5 petabyte data genomik dan menargetkan peningkatan hingga 10 petabyte. Data raksasa tersebut akan dianalisis menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk mendeteksi risiko penyakit berat lebih awal, sekaligus mendukung riset longevity tersebut.

Melalui lawatan kenegaraan yang berlangsung hingga 8 September 2026 ini, Menkes Budi berharap akan ada tindak lanjut kerja sama strategis antara Indonesia dan Swedia.

“Kita tentu berharap ke depannya ada dukungan program melalui pendanaan atau donasi teknis, terutama karena inisiatif ini membutuhkan kapasitas pengelolaan big data yang luar biasa besar,” pungkas Menkes Budi.