BERITA TERBARU
Kemenpar dan KJRI Hong Kong Dukung Greater Bay Airlines Buka Rute Hong Kong-Surabaya Suarakan Kepentingan Perdagangan Nasional,Mendag Busan Bertolak ke AS Hadiri G20 Harga iPhone Naik Signifikan! Inilah Penyebab dan Dampaknya bagi Konsumen Cara Mudah Move On! Lepaskan Lalu, Buka Lembaran Baru Seiring Hari Pariwisata Dunia, Menteri Pariwisata Luncurkan Indonesia Tourism Outlook 2026/2027 Kini Cetak SIM Cukup di Kios SIM, Cepat, Praktis, Tanpa Antre Panjang Taman Bunga Celosia Semarang, Pesona Warna yang Menggugah Senyum Kota Buka Pelatihan SSTC 2026, Kemendag Dorong Penguatan Kemitraan Perdagangan dan Investasi Indonesia–Afrika Ketegangan Meningkat! Iran Mulai Langkah Balasan, Inggris Diduga Jadi Sasaran Pemutihan Pajak 2026! Kesempatan Emas Tertibkan Kewajiban Negara
EKONOMI

Muhadjir Effendy Tegaskan Kemandirian Ekonomi Muhammadiyah sebagai Keniscayaan

Muhadjir Effendy Tegaskan Kemandirian Ekonomi Muhammadiyah sebagai Keniscayaan
dok. Muhammadiyah

Besarnya kepercayaan masyarakat kepada Muhammadiyah perlu dijawab dengan membangun kekuatan ekonomi yang mandiri. Persyarikatan tidak dapat terus-menerus menggantungkan pengembangan organisasi pada sumbangan, hibah, maupun aset wakaf.

Pesan tersebut disampaikan Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Muhadjir Effendy dalam acara Hari Bermuhammadiyah (HBM) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DKI Jakarta pada Sabtu (5/9) di Aula Ir. Djuanda, Lt.5 Kantor PWM DKI Jakarta.

Muhadjir mengatakan, Muhammadiyah memperoleh kepercayaan yang sangat besar dari masyarakat. Kepercayaan tersebut terlihat dari banyaknya tanah dan aset yang diserahkan untuk dikelola Persyarikatan, termasuk oleh masyarakat nonmuslim.

“Kita bersyukur Muhammadiyah memiliki trust yang sangat baik. Tidak sedikit orang nonmuslim yang mewakafkan tanahnya untuk Muhammadiyah. Umat Islam yang bukan warga Muhammadiyah juga banyak yang berwakaf,” ungkapnya.

Namun, menurut Muhadjir, Muhammadiyah tidak boleh merasa cukup hanya menjadi pihak yang menerima wakaf. Sebagai gerakan Islam berkemajuan, Persyarikatan juga harus memiliki kemampuan untuk memberi dan menghadirkan manfaat yang lebih luas.

“Kita suka diberi wakaf, tetapi kita sendiri tidak pernah berwakaf. Saya kira itu tidak sesuai dengan prinsip Muhammadiyah, al-yadul ‘ulya khairun minal yadis-sufla, tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah,” ujarnya, mengutip hadis riwayat Bukhari dan Muslim.

Atas dasar itu, Muhadjir menegaskan bahwa pembangunan kemandirian ekonomi Muhammadiyah merupakan kebutuhan mutlak. Kekuatan ekonomi akan membuat Persyarikatan semakin mandiri, disegani, dan mampu memperluas jangkauan dakwah serta pelayanan kepada masyarakat.

“Kita tidak bisa membangun Muhammadiyah ke depan hanya dengan mengandalkan sumbangan, wakaf, hibah, dan seterusnya. Kita harus mandiri dan mampu membangun kekuatan ekonomi sendiri agar semakin disegani serta semakin bisa berekspansi,” tegasnya.

Kemandirian tersebut dapat dibangun melalui pengembangan jaringan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), pendirian fasilitas produksi, serta pembentukan jaringan ritel. Jakarta dinilai memiliki posisi strategis untuk menjadi pusat awal yang menghubungkan berbagai unit usaha Muhammadiyah.