BERITA TERBARU
Soroti Insiden Penembakan di Pulo Keunari, Tgk Ahmada: Rakyat Harus Dilindungi, Bukan Ditakuti! DPD RI Perkuat Perjuangan Aspirasi Daerah melalui Legislasi, Pengawasan, dan Dialog Publik Mendag Busan Pantau Pasar Kebon Roek Mataram, Cabai dan Telur Ayam Surplus Jelang Nataru Dendeng Balado dan Sambal Cumi Racikan Khas Minangkabau Dapurnya Ami Berhasil Menjangkau Pasar Lebih Luas bersama linkumkm by BRI Kementerian PU Salurkan 104 Ribu Liter Air Bersih Bagi Warga Terdampak Kekeringan di Samarinda Modal Secarik Kertas, Mentan Amran Langsung Kabulkan Permintaan Petani dan Peternak Mitra Dapur MBG Keluhkan Perubahan Kebijakan BGN, Minta Kepastian Pembiayaan Kemnaker Tetapkan Ketentuan BSU 2026, Pekerja Berhak Terima Bantuan Rp900 Ribu Kurangi Dampak Kekeringan, Kementerian PU Perbaiki Sistem Pompa Bendung Bawah Tanah Bribin II Gunungkidul Indonesia Rampungkan Partisipasi di ADIPEC 2026 dengan Semangat Percepatan Pengembangan Hulu Migas Nasional
DAERAH

Demo Masak S’RASA di TEI ke-41 Berlanjut, Tekankan Kekuatan Promosi Kuliner

Demo Masak S’RASA di TEI ke-41 Berlanjut, Tekankan Kekuatan Promosi Kuliner
dok. Kemendag

Kementerian Perdagangan melalui Paviliun S’RASA: Rasa Rempah Indonesia mengadakan dua sesi demonstrasi memasak pada Jumat, (16/10) di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Tangerang, Banten. S’RASA menunjukkan pemanfaatan produk pangan, bumbu, dan rempah Indonesia dalam beragam hidangan sekaligus membuka peluang promosi dan ekspor produk nasional.

Menteri Perdagangan Budi Santoso menyampaikan, promosi kuliner merupakan pendekatan strategis untuk memperkenalkan produk Indonesia ke pasar internasional. Upaya ini sekaligus membuka peluang kerja sama perdagangan yang lebih luas.

“Melalui S’RASA, kami ingin membawa kekayaan kuliner Indonesia lebih dekat kepada masyarakat dunia. Setiap hidangan memiliki cerita dan memperlihatkan potensi produk pangan, bumbu, serta rempah Indonesia. Kami ingin promosi kuliner tidak berhenti pada pengenalan cita rasa, tetapi juga berkembang menjadi peluang perdagangan,” ujar Mendag Busan.

Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag, Fajarini Puntodewi, menegaskan bahwa demonstrasi memasak mampu menarik pengunjung untuk langsung merasakan pengalaman kuliner.

“Melalui S’RASA, kami ingin menunjukkan bahwa produk Indonesia dapat menjadi bagian 
dari beragam kreasi kuliner. Ketika pengunjung melihat secara langsung bagaimana suatu produk digunakan, mereka dapat lebih memahami manfaat, karakteristik, dan potensinya,” ujar Puntodewi.

Pada hari ketiga TEI ke-41, Jumat, (16/10), Paviliun S’RASA menghadirkan Chef Sisca Christo, Ketua Dharma Wanita Persatuan Kemendag Danti Budi Santoso, dan Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik Kementerian Luar Negeri Kamapradipta Isnomo. Demonstrasi menyajikan beef teriyaki, kue lupis, gado-gado, dan sate ayam dengan gula aren Mahorahora serta bumbu masak Enak Eco.

Mahorahora merupakan salah satu peserta yang memperoleh nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) dengan mitra dari Belanda. Produk Mahorahora merupakan gula aren murni dan organik asal Sukabumi, Jawa Barat, yang dihasilkan dari 100 persen nira aren pilihan melalui pemberdayaan petani lokal. Capaian kerja sama tersebut menjadi langkah positif dalam memperluas akses pasar internasional bagi produk unggulan Indonesia.

Pada November mendatang, Mahorahora dijadwalkan melaksanakan pelepasan ekspor ke Malaysia. Realisasi ekspor ini menunjukkan kemampuan produk gula aren Indonesia kita dalam memperluas jangkauan pasar.

Pada sesi pertama, Chef Sisca bersama Danti mengolah beef teriyaki dan kue lupis dengan gula aren Mahorahora. Kedua hidangan ini memperlihatkan fleksibilitas gula aren dalam kreasi kuliner modern maupun tradisional. Pada sesi kedua, Chef Sisca bersama Kamapradipta menghadirkan gado-gado dan sate ayam dengan bumbu masak Enak Eco yang merepresentasikan kekayaan kuliner Indonesia melalui perpaduan sayuran, bumbu, dan rempah khas Nusantara.

Kamapradipta menyampaikan bahwa kuliner memiliki peran penting dalam memperkenalkan Indonesia kepada dunia. Diplomasi tidak hanya berlangsung melalui pertemuan formal, tetapi juga dapat hadir melalui hal-hal yang dekat dengan kehidupan masyarakat, termasuk makanan.

“Gadogado dan sate ayam menunjukkan bahwa cita rasa Indonesia dapat menjadi jembatan untuk memperkenalkan budaya kita kepada dunia. Jika dilakukan secara konsisten, promosi kuliner juga dapat memperluas perhatian terhadap produk Indonesia,” ujar Kamapradipta.