Mendag Busan Ajak Pengusaha AS Jadi Buyer di TEI 2026
Jakarta, DARIM.ID – Menteri Perdagangan Budi Santoso mengajak para pelaku usaha Amerika Serikat (AS) untuk menjadi buyer di Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 pada 14–18 Oktober 2026 mendatang. Ia mengatakan, para pelaku usaha AS dapat menemukan produk-produk unggulan Indonesia dalam pameran yang berlangsung di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Kabupaten Tangerang, Banten tersebut. Mendag Busan berharap, buyer AS dapat menjajaki berbagai peluang kerja sama dengan pelaku usaha Indonesia dan meningkatkan pembelian produk-produk Indonesia.
Hal tersebut disampaikan Mendag Busan saat menjadi pembicara pada “14th Annual US-Indonesia Investment Summit” yang digelar di Jakarta, pada Selasa, (6/10). Mendampingi Mendag Busan, yakni Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan Johni Martha.
“Kami mengundang para pelaku usaha AS untuk ikut pada TEI ke-41 mendatang. Dalam pameran tersebut, pelaku usaha AS dapat mengeksplorasi peluang bersama pelaku usaha Indonesia secara langsung,” kata Mendag Busan.
Mendag Busan mengatakan, Indonesia berada dalam posisi strategis di tengah meningkatnya peran kawasan Indo-Pasifik dalam ekonomi global. Indonesia didukung pasar yang terus berkembang, tenaga kerja yang produktif, serta sumber daya yang melimpah. Mempertimbangkan hal-hal tersebut, ia optimistis perekonomian Indonesia dapat terus berkembang di tengah dinamika global.

“Peningkatan peran Indo-Pasifik dalam ekonomi global telah menempatkan Indonesia pada posisi strategis sebagai pasar utama serta hub strategis untuk produksi, investasi, dan ekspor. Semua kelebihan tersebut turut didukung oleh pasar yang terus berkembang, tenaga kerja muda dan produktif, serta sumber daya yang melimpah,” ujar Mendag Busan.
Ia menyatakan, Indonesia terbuka terhadap berbagai bentuk perdagangan dan kemitraan global. Terkait hubungan dagang antara Indonesia dan AS, Mendag Busan mengatakan, masih banyak peluang yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan hubungan perdagangan dan investasi. Salah satu upayanya adalah melalui Agreement on Reciprocal Trade (ART).
“Perekonomian global saat ini menghadapi berbagai dinamika, tetapi Indonesia akan tetap terbuka terhadap perdagangan dan kemitraan, sembari terus melakukan reformasi domestik, agar terjadi penguatan industri dan perluasan peluang kerja sama. Hubungan perdagangan dan investasi yang kuat dengan AS memberikan peluang yang signifikan bagi pelaku usaha kedua negara. Dalam hal ini, ART menjadi salah satu cara Indonesia mengoptimalkan peluang tersebut dengan AS melalui penguatan kepastian, peningkatan akses pasar, dan keterkaitan rantai pasok,” ujar Mendag Busan.
Sementara itu, terkait dengan upaya Pemerintah RI mengakselerasi perekonomian nasional, Mendag Busan menyampaikan komitmen pemerintah untuk mendorong hilirisasi industri, ketahanan pangan, keberlanjutan, dan perluasan akses pasar global. Kemendag sendiri turut berkontribusi dalam akselerasi tersebut melalui tiga program prioritas untuk memperkuat pasar dalam negeri dan mendorong ekspor.
“Kemendag memiliki tiga program prioritas untuk mendukung perekonomian nasional, yakni memperkuat pasar domestik melalui Program Pengamanan Pasar Dalam Negeri, kemudian memperluas akses pasar lewat Program Perluasan Pasar Ekspor. Lalu, untuk membawa pelaku usaha Indonesia dari skala lokal ke global, kami memiliki Program Dari Lokal untuk Global,” ungkap Mendag Busan.
Bahas Layanan Perdagangan dengan Kamar Dagang AS di Indonesia
Usai menjadi pembicara, Mendag Busan bertemu dengan sejumlah pelaku usaha yang tergabung dalam Kamar Dagang AS di Indonesia, atau American Chamber of Commerce (AmCham) Indonesia di hari yang sama (6/10). Ia menegaskan komitmen Pemerintah RI dalam meningkatkan layanan perdagangan bagi pelaku usaha. Komitmen ini bertujuan untuk memastikan pemerintah dapat mendukung berbagai kebutuhan dunia usaha. Sejalan dengan hal tersebut, perlu sinergi erat antara pemerintah dan pelaku usaha agar kebutuhan industri seperti kelancaran bahan baku dan kepastian layanan dapat ditindaklanjuti secara cepat dan tepat.
“Kami meminta masukan dunia usaha agar pemerintah dapat mengetahui kebutuhan industri dengan lebih jelas. Kami dorong penggunaan produk dalam negeri apabila kebutuhan industri dapat dipenuhi dari dalam negeri. Apabila bahan baku yang dibutuhkan belum tersedia di dalam negeri, kami meminta agar kebutuhan tersebut disampaikan secara resmi sehingga pemerintah dapat menindaklanjutinya sesuai ketentuan yang berlaku,” kata Mendag Busan.
Mendag Busan menekankan pentingnya peningkatan dan percepatan pelayanan perdagangan, khususnya dalam memenuhi kebutuhan bahan baku industri. Menurutnya, tidak terdapat permasalahan di sisi regulasi, namun peningkatan komitmen dan kecepatan pelayanan menjadi hal yang perlu diperkuat. “Tidak terdapat permasalahan di sisi regulasi. Hal yang diperlukan adalah komitmen untuk meningkatkan dan mempercepat pelayanan,” tegasnya.
Pelaku usaha AS juga menyampaikan perhatian terhadap penerapan ketentuan pemeriksaan halal yang dinilai berpotensi menambah biaya dan waktu dalam proses pengiriman. Mendag Busan menyampaikan, masukan tersebut akan ditampung dan disampaikan kepada pihak terkait.
Mendag Busan bersama Kamar Dagang AS juga membicarakan perkembangan perjanjian dagang antara Indonesia dan AS dalam skema ART. Ia menyebut, implementasi perjanjian perdagangan tersebut penting dilakukan agar manfaat kerja sama ini dapat segera dirasakan dunia usaha. Saat ini, Pemerintah RI masih menunggu perkembangan proses terkait investigasi excess capacity dan terus berkomunikasi dengan perwakilan Pemerintah AS. Di sisi lain, Mendag Busan menegaskan komitmen pemerintah untuk terus memperluas akses pasar melalui implementasi dan penjajakan berbagai perjanjian perdagangan dengan mitra dagang Indonesia.


