BERITA TERBARU
Data Center AI 640 MW Dibangun di Jatiluhur, Ditargetkan Beroperasi 2027 Harris Turino Minta Batas Defisit APBN Tetap 3 Persen Elvy Sukaesih Meriahkan HUT ke-70 Muba, Ribuan Warga Padati Lapangan Sekayu Tegaskan Pentingnya Suara Masyarakat, Pemerintah Perbarui Komitmen Sinergi SP4N-LAPOR! KAI Kooperatif dalam Proses Hukum dan Pastikan Pendampingan bagi Masinis Terkait Insiden Bekasi Timur KAI Kooperatif dalam Investigasi Keselamatan dan Tindak Lanjuti Rekomendasi KNKT Bawa Sport Tourism Indonesia ke Panggung Dunia, BRI Dukung Penuh Pertamina Grand Prix of Indonesia (MotoGP) 2026 Melalui BAZNAS RI, MINISO Salurkan Bantuan Rp62,4 Juta untuk Warga Terdampak Gempa NTT dan Ajak Perusahaan Lain Turut Berkolaborasi Lima Kabupaten/Kota Sumut Dipulihkan, Kementerian PU Percepat Layanan Air Minum dan Sanitasi Pascabencana BAZNAS RI Perkuat Legalitas Aset Hibah Muzaki, Optimalkan Manfaat bagi Umat
NASIONAL

Narasi Digital Berbasis Empati Jadi Kunci Tim Ekspedisi Patriot Angkat Potensi Kawasan Transmigrasi

Narasi Digital Berbasis Empati Jadi Kunci Tim Ekspedisi Patriot Angkat Potensi Kawasan Transmigrasi
dok. , Tim Kementerian Transmigrasi

Jakarta – Penguatan kawasan transmigrasi tidak hanya membutuhkan pemetaan data teknis di lapangan, tetapi juga penyampaian narasi publik yang kuat dan menyentuh guna menggali potensi kawasan. Membekali 1.476 akademisi yang tergabung dalam Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 2026, Kementerian Transmigrasi menekankan pentingnya komunikasi publik berbasis  empati sebagai pijakan utama untuk menyingkap potensi ekonomi dan kearifan lokal di 53 kawasan transmigrasi.

Sesi pembekalan komunikasi publik di Jakarta pada Senin (29/7) ini menjadi krusial untuk menggeser paradigma komunikasi lama yang bersifat satu arah menjadi interaksi yang setara dan inklusif. Melalui sudut pandang praktisi lintas bidang jurnalis Marissa Anita, _content creator_ dr. Nadhira Afifa, serta pendiri Suara Berkelas Bilal Faranov. Para peserta dibekali kemampuan teknis dan etika dalam menyusun narasi digital yang jujur, berdampak, dan terpercaya.

Pentingnya pemahaman komunikasi berbasis empati ini berdampak langsung pada cara peserta TEP 2026 berinteraksi dengan masyarakat lokal. Peserta diajak membangun kepercayaan _(trust)_ dengan mengedepankan rasa hormat terhadap kearifan lokal melalui tutur kata yang santun, sehingga masyarakat menerima kehadiran TEP sebagai mitra tumbuh bersama, bukan sekadar penilai dari luar.

Pada pembekalan ini juga disampaikan pentingnya penyampaian narasi yang tajam menggunakan pendekatan kalimat aktif serta data riil yang dikemas secara jujur _(genuine)._ Dengan begitu, potensi daerah dapat tersampaikan secara hidup tanpa harus bergantung pada produksi visual yang mewah.

“Tapi menurut saya yang paling pertama itu adalah bicaralah ke masyarakat setempat layaknya bagaimana kita mau diperlakukan. Jadi ketika bertanya ke mereka untuk menjawab rasa penasaran kita, baiknya lakukanlah dengan santun dan empatik,” ujar Marissa Anita.

Dalam sesi yang sama, dr. Nadhira Afifa turut menegaskan kepada peserta TEP 2026 bahwa konsistensi dan kebermanfaatan isi konten jauh lebih utama dibandingkan sekadar mengejar angka penonton _(views)_.

“Sebenarnya yang penting adalah konsisten. Balik lagi, tujuan kontennya apa. Ketika tujuannya memang mau _sharing_ data dan sesuatu yang _genuine_ yang teman-teman yakin pasti ada _value_-nya untuk _audience_ lalu ternyata _viewers_- nya dikit atau nggak ada yang komen, jangan patah semangat atau berhenti dulu,” ujar dr. Nadhira.

Melalui pembekalan ini, Tim Ekspedisi Patriot 2026 diharapkan mampu mengolah realitas lapangan menjadi narasi digital yang menginspirasi publik luas. Dampak akhirnya, kisah-kisah berbasis empati ini dapat memicu perhatian publik sekaligus menghasilkan rekomendasi strategis guna mempercepat transformasi kawasan transmigrasi.