WIG Talks 2026 Bedah Strategi Transformasi Gastronomi sebagai Penggerak Ekonomi Berkelanjutan
Jakarta, DARIM.ID – Wonderful Indonesia Gastronomy (WIG) Talks 2026 resmi digelar di Grand Hotel De Djokja dengan menghadirkan 22 pembicara dari unsur pemerintah, industri, pegiat seni, hingga akademisi untuk mengulas pengembangan gastronomi sebagai identitas budaya sekaligus penggerak ekonomi berkelanjutan.
Dalam sesi pembuka bertajuk Gastronomy as Identity and Industry: Indonesia’s Socio-Economic Engine yang dipandu Analis Kebijakan Ahli Utama Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kementerian Pariwisata (Kemenpar) Vinsensius Jemadu, diskusi mempertemukan tiga pengambil kebijakan untuk membahas kekuatan gastronomi dari perspektif budaya, pariwisata, dan pembangunan daerah.
Hadir sebagai narasumber Penghageng Kawedanan Hageng Nitya Budaya Keraton Yogyakarta sekaligus Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) DIY Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Bendara; Wali Kota Bukittinggi Ramlan Nurmatias; serta perwakilan Bappeda DKI Jakarta Atika Nur Rahmania.
GKR Bendara menyampaikan bahwa wisata gastronomi di Yogyakarta bukan sekadar menyajikan makanan (serving food), melainkan juga menghadirkan cerita (backstory), pengalaman budaya, serta keberlanjutan sumber pangan lokal.
“Semua produk wisata gastronomi di Jogja harus memiliki latar belakang cerita. Contohnya, mengapa kuliner Jogja cenderung manis? Karena pada masa Sultan Hamengkubuwono VII, terdapat sekitar 19 pabrik gula di Jogja. Gula menjadi simbol status sosial dan kekayaan bagi keraton, sehingga minuman dan makanan saat itu disajikan sangat manis. Jadi, orang tahu rekam sejarahnya; ini yang harus dikemas dengan baik,” kata GKR Bendara.
Menurutnya, gastronomi bukan sekadar persoalan rasa, melainkan juga pemahaman terhadap filosofi dan identitas yang melatarbelakangi sebuah hidangan. Rekam sejarah yang terdokumentasi dengan baik menjadi salah satu kekuatan yang membuat gastronomi Yogyakarta memiliki keunikan dibandingkan daerah lain.
Dalam kesempatan yang sama, GKR Bendara turut memperkenalkan dua kuliner langka asal DIY, yakni nasi golong gilig dan dawet sambal. Ia menilai dawet sambal yang memadukan dawet manis, sambal pecel, dan tahu memiliki potensi besar menjadi daya tarik wisata apabila diperkuat dengan narasi dan promosi yang tepat.
“Karena terkadang orang baru mendengar dawet sambal sudah menolak dulu, karena pikirannya dawet manis kok ada sambalnya. Jadi dawet manis tapi ada sambal pecelnya, jadi ada tahunya tapi ada dawetnya,” ungkapnya.
Senada dengan GKR Bendara, Wali Kota Bukittinggi Ramlan Nurmatias menegaskan bahwa gastronomi perlu dikemas melalui narasi (storytelling) yang kuat dan berpijak pada nilai budaya. Ia mencontohkan hidangan adat seperti rendang yang tidak hanya memiliki cita rasa khas, tetapi juga menyimpan makna filosofis.
“Gastronomi harus terus dicatat, diwariskan, dan diintegrasikan dengan penataan kota pusaka serta cerita sejarah agar memberikan nilai tambah yang optimal bagi wisatawan,” ujar Ramlan.
Transformasi Warisan Budaya
Sesi kedua mengangkat tema Serving Indonesia: Translating Heritage into a Scalable F&B Business yang dipandu Yoke Darmawan. Sesi ini menghadirkan Chef Fernando Sindu dari Salira, Chef Glennaldy Adrian Erari dari SEMAJA, serta pendiri Chocolate Monggo Thierry Detournay.
Chef Fernando mengungkapkan tantangan dalam mengelola bisnis kuliner Nusantara. Menurutnya, konsumen lokal umumnya memiliki standar yang tinggi terhadap makanan daerah karena terdapat ikatan emosional dengan hidangan yang mereka kenal sejak kecil.
Oleh karena itu, pemahaman mendalam terhadap resep asli dari berbagai daerah menjadi kunci untuk menghadirkan hidangan autentik, sekaligus membuka ruang bagi inovasi atau modifikasi yang tetap dapat dipertanggungjawabkan.
“Orang Indonesia sangat kritis terhadap makanan lokal karena memiliki kenangan atau ikatan emosional dengan masakan keluarga seperti nenek atau ibu. Jadi penting banget untuk memahami resep dari sumber aslinya di berbagai daerah agar dapat menyajikan makanan yang autentik sekaligus memberikan sedikit sentuhan atau modifikasi yang dapat dipertanggungjawabkan kepada konsumen,” ungkap Fernando.
Sementara itu, Thierry Detournay berbagi kisah mengenai perjalanannya memperkenalkan cokelat murni (couverture) kepada masyarakat Indonesia yang sejak kecil lebih terbiasa dengan cokelat komposit (compound chocolate).
Berawal dari dapur seluas 50 meter persegi di selatan Yogyakarta, Chocolate Monggo kini berkembang menjadi salah satu pelopor cokelat artisan Indonesia dengan 22 varian rasa berbahan kakao berkualitas tinggi serta kemasan ramah lingkungan berornamen Jawa.
Chocolate Monggo juga mengembangkan pengalaman wisata edukatif melalui museum dan area pabrik yang memungkinkan wisatawan mengenal lebih dekat proses pengolahan kakao menjadi produk cokelat bernilai tambah.
“Kakao Indonesia memiliki kualitas yang bagus. Dan ini harus bisa dimanfaatkan oleh masyarakat agar bisa menghasilkan cokelat berkualitas dengan mengolah yang benar,” ujar Thierry.
Sinergi Pembiayaan, Modal Kreatif
Pada sesi ketiga, diskusi bertajuk Wonderful Indonesia Scale-up Hub (WISH) dan Potensi Gastrowisata memetakan peluang kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat ekosistem gastronomi Indonesia.
Sesi ini menghadirkan Founder & CEO Pelangi Benua Vinny Mulyadi, Ibu & Pengarsip Bhumi Bhuvana Bukhi Prima Putri, Marcia Tirtawisata dari Panorama Group, serta Mario Sabato dari Bank BTN, dengan moderator Muhammad Alif Hudanto.
Diskusi menyoroti pentingnya integrasi rute wisata berbasis pengalaman, pengarsipan berbasis komunitas, distribusi berskala nasional, hingga dukungan ekosistem keuangan digital bagi UMKM kuliner. Kolaborasi tersebut menjadi bagian penting dalam memperluas manfaat ekonomi gastronomi sekaligus memperkuat keberlanjutan usaha para pelakunya.
Eksplorasi gastronomi sebagai modal kreatif (creative capital) kemudian dibahas secara mendalam pada sesi keempat yang dipandu Poppy Octavia Siregar. Sesi ini menghadirkan ilustrator Nugraha Pratama, arsitek Rubi Roesli, desainer permainan papan Adhicipta Raharja Wirawan, serta sutradara film Nia Dinata.
Dalam sesi tersebut, Nia Dinata berbagi pengalaman mengenai proses penggarapan film Berbagi Suami (2006) yang membawanya merancang set restoran fiktif “Bebek Koh Abun” di kawasan Glodok melalui riset resep dan teknik memasak yang autentik.
Bagi Nia, detail visual dalam pengolahan makanan, mulai dari teknik memotong hingga menyajikan hidangan, memiliki daya tarik estetika yang kuat. Ia mengibaratkan warung pinggir jalan tradisional sebagai bentuk open kitchen warisan leluhur yang menyimpan kekayaan budaya.
Eksplorasi tersebut berlanjut dalam proyek terbarunya, Berbagi Suami 2.0 di Yogyakarta, yang mengangkat kekayaan kuliner lokal seperti gudeg, mi godog, hingga beragam jajanan pasar tradisional.
Senada dengan hal tersebut, ilustrator sekaligus pengisah makanan (food storyteller) Nugraha Pratama mengungkapkan bahwa tantangan terbesar dalam menggambarkan makanan bukan terletak pada visualisasi rasa, melainkan pada upaya menangkap esensi budaya yang berada di balik sebuah hidangan.
Melalui goresan sketsa, ia berupaya membangun dokumentasi sejarah visual gastronomi (gastronomic history) yang merekam cara manusia menikmati kuliner sekaligus berinteraksi secara sosial pada zamannya.
“Bagian tersulit bukan menggambarkan rasa, melainkan menangkap budaya di balik makanan tersebut karena memiliki latar belakang sejarah yang panjang dan mendalam,” ujar Nugraha.
Membangun Narasi Global
Sebagai penutup rangkaian acara, sesi bertajuk Story, Taste, Identity: Building a Global Narrative for Indonesian Cuisine menghadirkan para pegiat kuliner Indonesia yang berkiprah di kancah internasional.
Mereka adalah Dindin Mediana, Partner TUKU Amsterdam sekaligus Co-Founder Hejo Coffee; penulis kuliner internasional Petty PandeanElliott; serta Chef Agus Hermawan, chef-owner restoran di Amsterdam.
Sesi tersebut membahas pentingnya penguatan storytelling, konsistensi mutu, serta strategi membangun kepercayaan konsumen global terhadap kekayaan dan kelezatan kuliner Nusantara.
Penguatan narasi menjadi penting karena kuliner Indonesia tidak hanya membawa cita rasa, tetapi juga merepresentasikan sejarah, keragaman budaya, kekayaan bahan pangan, kreativitas masyarakat, serta identitas bangsa yang dapat menjadi kekuatan pariwisata Indonesia di tingkat global.
Melalui penyelenggaraan WIG Talks and Forum 2026, Kementerian Pariwisata berharap berbagai gagasan, pengalaman, dan praktik baik yang lahir dari forum tersebut dapat menjadi referensi dalam memperkuat ekosistem gastronomi nasional.
Kolaborasi antara pemerintah, industri, komunitas, akademisi, seniman, pelaku usaha, dan berbagai pemangku kepentingan diharapkan semakin memperkuat posisi gastronomi sebagai kekuatan budaya dan ekonomi, sekaligus membawa kekayaan cita rasa Indonesia melangkah dari tradisi lokal menuju pengakuan dunia.


