BERITA TERBARU
Pertemuan Bilateral di Sela G20 TMM, Indonesia Perkuat Kerja Sama dengan AS, Arab Saudi, dan Rusia BAZNAS RI dan TAF Tandatangani MoU Perkuat Pemberdayaan Mustahik di Kawasan Hutan Sawah Kekurangan Air, Pompa Dikerahkan di Bekasi hingga Cirebon Menaker Ajak Perusahaan Serap Penyandang Disabilitas Usai Ikuti Pelatihan Business Matching Madrid Ungkap Potensi Ekspor Briket hingga Keripik Sayur Melalui BAZNAS RI, AEON Indonesia Salurkan Bantuan Rp233 Juta untuk Pemulihan NTT Ekspor Agustus 2026 Tembus USD 26,61 Miliar, Mendag Busan: Manufaktur Jadi Motor Utama Kota Banjar Bidik Teknologi Ultrafiltrasi agar Air PDAM Bisa Langsung Diminum Hadiri Sesi I G20 TMM, Mendag Busan Tegaskan Ketahanan Pangan Bukan Instrumen Tekanan Geopolitik UMKM Kulon Progo Kembangkan Beras Analog Bravo dari Singkong Lokal
NASIONAL

Ekspor Agustus 2026 Tembus USD 26,61 Miliar, Mendag Busan: Manufaktur Jadi Motor Utama

Ekspor Agustus 2026 Tembus USD 26,61 Miliar, Mendag Busan: Manufaktur Jadi Motor Utama
dok. Kemendag

Menteri Perdagangan Budi Santoso menyampaikan, kinerja ekspor Indonesia tetap terjaga di tengah dinamika perekonomian global. Hal ini tecermin dari nilai ekspor pada Agustus 2026 yang mencapai USD 26,61 miliar atau tumbuh 6,72 persen dibandingkan Agustus 2025. Pertumbuhan pada Agustus 2026 ditopang oleh ekspor nonmigas sebesar USD 25,62 miliar.

Dari nilai tersebut, ekspor industri pengolahan atau manufaktur tumbuh 12,48 persen. “Capaian ekspor Indonesia pada Agustus 2026 yang mencapai USD 26,61 miliar menunjukkan fundamental perdagangan Indonesia tetap memiliki daya tahan yang kuat. Di tengah dinamika ekonomi global, produk-produk Indonesia tetap diminati dan mampu bersaing di pasar internasional. Pertumbuhan ekspor ini menjadi sinyal positif bahwa aktivitas perdagangan Indonesia terus berada dalam tren ekspansif,” ujar Mendag Busan.

Mendag Busan memaparkan, pada Januari–Agustus 2026, nilai ekspor Indonesia mencapai USD 193,64 miliar atau meningkat 4,74 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Di sisi lain, ekspor industri pengolahan menjadi penopang utama pada Januari—Agustus 2026 dengan nilai USD 159,55 miliar atau tumbuh 7,87 persen. Mendag Busan menekankan, akselerasi ekspor manufaktur mencerminkan keberhasilan Indonesia menggeser struktur ekonomi menuju produk bernilai tambah.

“Peningkatan signifikan pada sektor manufaktur menunjukkan keberhasilan transformasi struktural yang konsisten dijalankan. Indonesia kini mulai bertransformasi dari eksportir bahan mentah ke produsen produk olahan industri bernilai tambah tinggi. Hilirisasi ini terbukti menjadi katalis utama yang melipatgandakan nilai ekspor, memperkuat daya saing industri nasional, serta menciptakan dampak berganda bagi penciptaan lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi domestik,” kata Mendag Busan.

Jaga Surplus

Penguatan kinerja ekspor turut tecermin pada neraca perdagangan Indonesia yang pada Agustus 2026 kembali mencatatkan surplus sebesar USD 3,55 miliar. Surplus ini ditopang oleh sektor nonmigas yang mencapai USD 6,09 miliar. Dari sisi komoditas, ekspor nonmigas Indonesia pada Agustus 2026, antara lain, ditopang besi dan baja, minyak kelapa sawit dan produk turunannya,serta batu bara. Negara tujuan utama ekspor nonmigas Indonesia pada periode tersebut adalah Tiongkok, Amerika Serikat (AS), dan India.

Sementara itu, neraca perdagangan Indonesia pada Januari–Agustus 2026 secara kumulatif membukukan surplus USD 7,25 miliar, dengan surplus nonmigas mencapai USD 28,54 miliar. Pada periode tersebut, AS, India, dan Filipina menjadi negara dengan kontribusi surplus nonmigas terbesar.

Mendag Busan menilai, diperlukan upaya memperluas akses pasar dan meningkatkan daya saing produk Indonesia untuk menjaga surplus. Oleh karena itu, pemerintah akan terus mengoptimalkan berbagai kerja sama dan perjanjian perdagangan yang dimiliki Indonesia untuk membuka peluang pasar yang lebih luas bagi eksportir nasional.

“Surplus perdagangan yang terus terjaga menjadi modal penting bagi perekonomian nasional.Kementerian Perdagangan akan terus mengoptimalkan berbagai perjanjian perdagangan untuk memperluas akses pasar dan mengurangi hambatan perdagangan, sehingga produk-produk Indonesia makin berpeluang untuk masuk dan bersaing di pasar global,” imbuh Mendag Busan.

Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag, Fajarini Puntodewi, mengatakan, capaian ekspor hingga Agustus 2026 menjadi momentum untuk terus memperkuat ekosistem ekspor nasional dari hulu ke hilir. Di sisi lain, Kemendag terus mendorong diversifikasi pasar ekspor ke kawasan nontradisional potensial seperti Asia Selatan, Timur Tengah, Afrika, hingga Amerika Latin. Upaya ini dilakukan melalui penguatan peran 46 perwakilan perdagangan (perwadag) RI di 33 negara. Para perwadag RI bertugas mengidentifikasi peluang pasar, mempertemukan eksportir dengan calon pembeli, serta memberi pendampingan pemenuhan standar mutu dan pengawalan kesepakatan dagang.

“Kami akan terus mendorong perwadag RI untuk aktif membuka peluang pasar, mempertemukan eksportir dengan calon pembeli melalui penjajakan bisnis (business matching), dan memberikan pendampingan hingga transaksi terealisasi. Dengan langkah ini, kami optimistis kinerja ekspor nasional dapat terus tumbuh hingga akhir 2026,” pungkas Puntodewi.