BERITA TERBARU
Kemenpar dan KJRI Hong Kong Dukung Greater Bay Airlines Buka Rute Hong Kong-Surabaya Suarakan Kepentingan Perdagangan Nasional,Mendag Busan Bertolak ke AS Hadiri G20 Harga iPhone Naik Signifikan! Inilah Penyebab dan Dampaknya bagi Konsumen Cara Mudah Move On! Lepaskan Lalu, Buka Lembaran Baru Seiring Hari Pariwisata Dunia, Menteri Pariwisata Luncurkan Indonesia Tourism Outlook 2026/2027 Kini Cetak SIM Cukup di Kios SIM, Cepat, Praktis, Tanpa Antre Panjang Taman Bunga Celosia Semarang, Pesona Warna yang Menggugah Senyum Kota Buka Pelatihan SSTC 2026, Kemendag Dorong Penguatan Kemitraan Perdagangan dan Investasi Indonesia–Afrika Ketegangan Meningkat! Iran Mulai Langkah Balasan, Inggris Diduga Jadi Sasaran Pemutihan Pajak 2026! Kesempatan Emas Tertibkan Kewajiban Negara
EKONOMI

Buka Pelatihan SSTC 2026, Kemendag Dorong Penguatan Kemitraan Perdagangan dan Investasi Indonesia–Afrika

Buka Pelatihan SSTC 2026, Kemendag Dorong Penguatan Kemitraan Perdagangan dan Investasi Indonesia–Afrika
dok. Kemendag

Kementerian Perdagangan mendorong penguatan kemitraan perdagangan dan investasi Indonesia dengan negara-negara Afrika melalui peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) yang adaptif dalam menghadapi perubahan lanskap perdagangan global, termasuk restrukturisasi rantai pasok,
digitalisasi, dan isu keberlanjutan. Hal tersebut disampaikan Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Perdagangan (BPSDMP) Kementerian Perdagangan Djatmiko Bris Witjaksono saat membuka SouthSouth and Triangular Cooperation (SSTC) on Trade and Investment Promotion for African Countries 2026 di Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Ekspor dan Jasa Perdagangan (PPEJP), Jakarta, Senin (28/9).

“Perubahan lanskap perdagangan global menuntut negara-negara memiliki institusi yang kuat serta SDM yang kompeten dan adaptif. Indonesia siap berbagi pengalaman dalam promosi perdagangan, pengembangan ekspor, fasilitasi perdagangan, perdagangan digital, internasionalisasi usaha kecil dan menengah (UKM), serta pengembangan SDM perdagangan,” ujar Djatmiko.

Menurut Djatmiko, melalui SSTC, Indonesia membangun kemitraan yang setara dengan berbagi pengalaman dan pengetahuan di bidang perdagangan. Program ini juga menjadi ruang pembelajaran dua arah bagi Indonesia, Jepang, dan negara-negara Afrika serta membuka peluang pengembangan kerja sama yang lebih
luas.

“Afrika merupakan kawasan yang sangat potensial, baik dari sisi jumlah penduduk, perdagangan, investasi, maupun sumber daya yang dimiliki. Melalui SSTC, kami berharap hubungan Indonesia dengan negara-negara
Afrika makin erat serta berkembang menjadi kerja sama yang lebih strategis dan komprehensif,” kata Djatmiko.

Penguatan kapasitas tersebut juga sejalan dengan upaya Indonesia mempererat hubungan ekonomi dengan negara-negara Afrika. Pada 2023, total perdagangan Indonesia dengan Afrika mencapai USD 13,7 miliar. Sementara itu, Indonesia-Africa Forum (IAF) ke-2 di Bali pada 2024 mencatat kesepakatan bisnis senilai USD 3,5 miliar, meningkat dibandingkan USD 568 juta pada IAF 2018.

Djatmiko menambahkan, pengembangan hubungan ekonomi Indonesia dengan Afrika juga didukung keberadaan perwakilan perdagangan Indonesia di kawasan tersebut, antara lain ITPC Johannesburg, ITPC Lagos, serta Atase Perdagangan RI Kairo. Berbagai produk Indonesia telah memasuki pasar Afrika, mulai dari produk makanan, alas kaki, tekstil dan produk tekstil, kertas, hingga produk otomotif.

SSTC on Trade and Investment Promotion for African Countries 2026 merupakan penyelenggaraan kedua setelah program perdana pada 2025. Melanjutkan capaian dan pembelajaran dari pelaksanaan sebelumnya,
program tahun ini berfokus pada negara-negara Afrika Timur.

Djatmiko menilai pengalaman Indonesia dalam integrasi ekonomi ASEAN dapat menjadi referensi bagi negaranegara Afrika di tengah penguatan integrasi ekonomi melalui African Continental Free Trade Area (AfCFTA). Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa integrasi ekonomi regional tidak cukup hanya dengan kesepakatan, tetapi juga membutuhkan institusi yang kuat, fasilitasi perdagangan yang efektif, pelaku usaha yang kompetitif, kebijakan investasi yang mendukung, serta SDM yang mumpuni.

“Program ini tidak boleh berhenti di ruang pelatihan. Ukuran keberhasilannya yaitu bagaimana pengetahuan yang diperoleh dapat diterjemahkan menjadi penguatan jejaring kelembagaan, pertukaran pengetahuan yang
berkelanjutan, kerja sama teknis lanjutan, serta hasil yang nyata dan terukur melalui rencana aksi para peserta,” lanjut Djatmiko.

Turut hadir dalam pembukaan SSTC 2026 Sekretaris Kementerian Sekretariat Negara Setya Utama, Kepala Perwakilan JICA Indonesia Takeda Sachiko, Presiden Economic Research Institute for ASEAN and East Asia (ERIA) Tetsuya Watanabe, serta Kepala PPEJP Abu Amar.

Setya Utama menyampaikan, penyelenggaraan SSTC untuk kedua kalinya menunjukkan komitmen untuk membangun kemitraan berkelanjutan, memperkuat hubungan antarinstitusi, serta membuka ruang bagi
negara-negara peserta untuk saling berbagi pengalaman dan pengetahuan. Kerja sama tersebut meneruskan semangat Konferensi Asia-Afrika 1955 yang menjunjung solidaritas, kesetaraan, saling menghormati, dan
kemakmuran bersama.

“Semangat Konferensi Asia-Afrika mengingatkan kita bahwa kerja sama antarnegara berkembang bukanlah transfer pengetahuan satu arah. Setiap negara membawa pengalaman, tantangan, dan solusi masing-masing. Semangat inilah yang terus dibawa Indonesia melalui Kerja Sama Selatan-Selatan dan Triangular,” ujar Setya.

Setya menambahkan, Indonesia tidak menempatkan pengalamannya sebagai satu-satunya model, melainkan sebagai referensi yang dapat dipertukarkan dengan pengalaman negara-negara Afrika. Melalui pertukaran tersebut, negara-negara peserta dapat saling belajar dan mengembangkan pendekatan yang sesuai dengan
kebutuhan dan karakteristik masing-masing.

Sementara itu, Takeda Sachiko menyampaikan, SSTC 2026 merupakan kelanjutan dari program perdana pada 2025 yang capaian dan pembelajarannya telah dipresentasikan pada 9th Tokyo International Conference on African Development (TICAD-9) pada Agustus 2025. Kelanjutan program yang berfokus pada negara-negara Afrika Timur ini mencerminkan komitmen Indonesia dan Jepang untuk memperkuat kerja sama di bidang
perdagangan dan investasi.

Takeda menambahkan, program tersebut merupakan implementasi Memorandum of Cooperation (MoC) antara Japan International Cooperation Agency (JICA) dan Kementerian Luar Negeri RI yang ditandatangani pada Indonesia-Africa Forum pada September 2024. Kemitraan tersebut mendukung pencapaian Agenda
Pembangunan Berkelanjutan 2030 dan Agenda Afrika 2063 melalui kerja sama triangular yang memadukan pengalaman dan keunggulan Indonesia dan Jepang. JICA juga telah mendukung PPEJP dan pendahulunya, Indonesia Export Training Center (IETC), sejak 1986 melalui hibah Official Development Assistance (ODA) dan
proyek kerja sama teknis.


Pelatihan yang berlangsung pada 27 September–8 Oktober 2026 di Jakarta ini diikuti 14 peserta dari enam negara Afrika, yaitu Ethiopia, Mozambik, Tanzania, Sudan Selatan, Somalia, dan Rwanda, serta dua pengamat dari East African Community (EAC) dan AfCFTA Secretariat. Pelatihan memadukan pembelajaran teoretis dan
praktis mengenai perdagangan dan investasi, antara lain perjanjian dan negosiasi perdagangan internasional, kerja sama ekonomi ASEAN, promosi ekspor, pengembangan UKM, pemasaran digital, kebijakan investasi, dan
perizinan berusaha.

Salah satu peserta, Lulla Kabijukya Ali, Inspector for Market Infrastructure Development, Ministry of Trade and Industry, South Sudan, mengapresiasi pelaksanaan SSTC yang memberikan kesempatan bagi peserta untuk
mempelajari pengalaman Indonesia di bidang perdagangan dan industri, termasuk melihat secara langsung penerapan berbagai praktik yang dapat menjadi referensi untuk diterapkan di negara asal.

“Saya antusias mengikuti program ini dan yakin akan memperoleh banyak pembelajaran dari pengalaman Indonesia. Saya menantikan rangkaian pelatihan selanjutnya dan berharap dapat membawa pengetahuan yang saya peroleh untuk diterapkan ketika kembali ke negara saya,” ujar Lulla.