Sinopsis Sinetron Putri Pewaris: Cinta di Antara Dendam Dua Keluarga
SCTV kembali menghadirkan tontonan hangat di layar kaca lewat sinetron terbaru berjudul Putri Pewaris, yang mulai mengudara sejak Senin, 14 September 2026, setiap hari pukul 17.00 WIB dan tersedia juga lewat platform Vidio. Kisah berpusat pada Aina, mahasiswi sekaligus SPG yang sederhana, dan Darel, putra pewaris konglomerat yang hidup bergelimang kemewahan.
Aina diperankan Esta Pramanita, sementara Giorgino Abraham memerankan Darel. Semua bermula ketika Aina tidak sengaja merekam aksi Darel yang menerobos lampu merah hingga menabrak seseorang. Rekaman itu diunggah ke media sosial dan langsung viral, memancing kemarahan pihak keluarga Darel yang khawatir nama baik perusahaan VOLTZ ternoda.
Saat ayah Darel, Ferdi, datang membereskan masalah ke rumah Aina, ibunda Aina, Yanti, gemetar mengenali sosok pria yang diduga merebut perusahaan keluarga sekaligus terkait kematian suaminya, Chandra, dua puluh tahun silam.
Cerita berputar di lingkungan perkotaan Jakarta, memadukan kehidupan sederhana Aina dengan kemewahan kediaman keluarga Ferdi, serta pertemuan di tempat-tempat yang perlahan mengungkap benang merah masa lalu.Di tengah permusuhan yang diwarisi, Aina dan Darel justru terus dipertemukan, bahkan terjebak dalam situasi yang nyaris membuat mereka menikah. Yang bermula dari kebencian perlahan berubah menjadi perasaan sulit disangkal, sekaligus terancam hancur tiap kali fakta masa lalu terkuak.
Bukan sekadar romansa biasa, melainkan perjalanan dua jiwa yang harus memilih antara kesetiaan pada dendam keluarga atau membangun masa depan bersama. Dipta, tokoh ketiga, turut memperkeruh dinamika hubungan mereka.Sutradara Rudi Aryanto menyusun alur yang menegangkan, di mana setiap kebenaran yang terungkap menguji keteguhan hati Aina dan Darel.
Perwakilan produksi Sinemart menyampaikan kepada Liputan6. “Kami ingin penonton merasakan bahwa cinta tidak mengenal batas masa lalu, meski diuji oleh kenyataan pahit sekalipun. Aina dan Darel membuktikan bahwa menyembuhkan luka lama butuh keberanian lebih besar daripada sekadar mempertahankan kebencian.”


