BERITA TERBARU
Kemenpar dan KJRI Hong Kong Dukung Greater Bay Airlines Buka Rute Hong Kong-Surabaya Suarakan Kepentingan Perdagangan Nasional,Mendag Busan Bertolak ke AS Hadiri G20 Harga iPhone Naik Signifikan! Inilah Penyebab dan Dampaknya bagi Konsumen Cara Mudah Move On! Lepaskan Lalu, Buka Lembaran Baru Seiring Hari Pariwisata Dunia, Menteri Pariwisata Luncurkan Indonesia Tourism Outlook 2026/2027 Kini Cetak SIM Cukup di Kios SIM, Cepat, Praktis, Tanpa Antre Panjang Taman Bunga Celosia Semarang, Pesona Warna yang Menggugah Senyum Kota Buka Pelatihan SSTC 2026, Kemendag Dorong Penguatan Kemitraan Perdagangan dan Investasi Indonesia–Afrika Ketegangan Meningkat! Iran Mulai Langkah Balasan, Inggris Diduga Jadi Sasaran Pemutihan Pajak 2026! Kesempatan Emas Tertibkan Kewajiban Negara
TRAVEL

Selat Sunda: Jalur Penting dan Simpanan Sejarah Alam Tak Ternilai

Selat Sunda: Jalur Penting dan Simpanan Sejarah Alam Tak Ternilai
Selat Sunda (Foto/Pinterest)

Selat Sunda, perairan yang memisahkan Pulau Jawa dan Sumatera sekaligus menghubungkan Laut Jawa dengan Samudra Hindia, merupakan salah satu jalur pelayaran tersibuk sekaligus kawasan geologi paling aktif di dunia. Terletak di antara pesisir barat Banten dan selatan Lampung, selat sepanjang 150 kilometer ini menyimpan peran strategis, sejarah alam dahsyat, serta potensi kekayaan laut yang luar biasa .Perairan sempit yang menjadi pintu gerbang antara dua samudra.

Lebarnya berkisar antara 22 hingga 110 kilometer, dengan titik tersempit hanya 30 kilometer. Di dalamnya tersebar pulau-pulau vulkanik ikonik Krakatau, Anak Krakatau, Sebesi, Sebuku, dan Panaitan saksi bisu aktivitas bumi yang tak pernah berhenti. Kedalaman rata-rata 20–200 meter, menjadikannya jalur yang menantang namun vital bagi pelayaran dunia.

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Perhubungan, BMKG, PVMBG, serta Dinas Kelautan dan Perikanan mengelola keselamatan pelayaran sekaligus pemantauan aktivitas gunung api di kawasan ini. Ratusan kapal niaga, kapal penyeberangan Merak–Bakauheni, serta nelayan bergantung pada perairan ini setiap hari.

Di antara ujung barat daya Pulau Jawa (Kabupaten Pandeglang, Serang) dan ujung tenggara Pulau Sumatera (Kabupaten Lampung Selatan). Titik tersempit berada di dekat Pulau Sangiang, menjadikannya posisi strategis sekaligus rawan kemacetan pelayaran.

Sejak zaman Kerajaan Sriwijaya, Selat Sunda sudah menjadi jalur perdagangan internasional. Kini, ribuan kapal dari Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan melintas ke Eropa dan Timur Tengah lewat sini, alternatif lebih pendek dibanding Selat Malaka. Namun di balik manfaatnya, selat ini menyimpan kenangan kelam: letusan Krakatau 1883 yang memicu tsunami setinggi 30 meter dan menewaskan puluhan ribu jiwa.

“Selat Sunda bukan sekadar perairan pemisah dua pulau. Ia adalah zona pertemuan lempeng bumi yang terus bergerak hidup, dinamis, sekaligus mengingatkan kita bahwa kekuatan alam di sini tak pernah benar-benar tidur,” ujar Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) sebagaimana dikutip BeritaSatu pada September 2026.Gunung Anak Krakatau masih aktif dipantau 24 jam.

Kapal diimbau menjaga jarak aman minimal 5 kilometer dari kawah. Rencana pembangunan Jembatan Selat Sunda terus dikaji, namun tantangan geologis tetap menjadi pertimbangan utama. Warga pesisir diminta tetap waspada terhadap potensi gelombang tinggi dan peringatan dini tsunami.Selat Sunda mengajarkan: di antara keindahan dan bahaya, manusia harus terus berhati-hati melangkah di atas perairan yang tak pernah berhenti bernapas.