BERITA TERBARU
Airlangga Hartarto Mulai Gunakan Maung Pindad sebagai Mobil Dinas Kementerian PU Suplesi Air untuk Jaga 8.845 Hektare Sawah di Nganjuk Jelang Rakornas, BAZNAS RI Perkuat Tata Kelola UPZ untuk Perluas Manfaat Zakat Iran-Rusia Perkuat Kerja Sama Ekonomi, Siapkan Bursa Rubel dan Pinjaman US$20 Miliar Kementerian PU Perkuat Jembatan Kr Tingkeum untuk Mudahkan Konektivitas dan Lindungi Dari Daya Rusak Sungai Kemenpar Perkuat Kemampuan Digital Pimpinan Guna Perkuat Tata Kelola Pariwisata Mas Dar: Temuan Faktual Ombudsman Sangat Membantu Perbaikan MBG Menaker: RUU Pelindungan Ketenagakerjaan Hadirkan Era Baru Hukum Ketenagakerjaan Sekolah Rakyat Menjadi Wadah Pendidikan yang Membentuk Bakat dan Budi Pekerti Bagi Anak Kunjungi BGN, Ombudsman Siapkan Policy Brief dari Temuan 34 Provinsi untuk Perkuat Tata Kelola MBG
INTERNASIONAL

Iran-Rusia Perkuat Kerja Sama Ekonomi, Siapkan Bursa Rubel dan Pinjaman US$20 Miliar

Iran-Rusia Perkuat Kerja Sama Ekonomi, Siapkan Bursa Rubel dan Pinjaman US$20 Miliar

Iran dan Rusia terus memperdalam hubungan ekonomi dan keuangan di tengah upaya kedua negara mengurangi ketergantungan terhadap sistem keuangan Barat.

Salah satu langkah yang disiapkan Teheran adalah pembentukan bursa perdagangan rubel. Rencana tersebut diumumkan Iran pada Juni 2026 sebagai bagian dari upaya memperkuat kerja sama perbankan dan moneter dengan Rusia.

Gubernur Bank Sentral Iran saat itu menyebut bursa perdagangan rubel akan dibentuk di Iran Center for Exchange of Currency and Gold. Teheran juga berencana mengembangkan mekanisme nilai tukar rial-rubel serta memperkuat jalur pembayaran antara pelaku usaha kedua negara.

Langkah tersebut diharapkan dapat mempermudah transaksi perdagangan Iran-Rusia sekaligus mengurangi hambatan pembayaran yang muncul akibat sanksi dan keterbatasan akses terhadap sistem keuangan internasional.

Di saat yang sama, rencana pembiayaan besar dari Rusia juga mencuat. Anggota Komisi Ekonomi Parlemen Iran, Meysam Zohourian, mengatakan Moskow diperkirakan memberikan pinjaman senilai US$20 miliar kepada Teheran dalam mata uang rubel.

Pinjaman tersebut disebut memiliki bunga tahunan sebesar 6 persen. Namun, pada saat laporan tersebut muncul, rencana pencairannya masih menunggu persetujuan dan pembahasan lebih lanjut dari pihak Iran.

Menurut laporan Fars yang dikutip Anadolu, Rusia bahkan disebut telah berupaya mencairkan tahap awal pinjaman sebesar US$1 miliar. Namun, pejabat Iran masih mengevaluasi manfaat penerimaan dana dalam denominasi rubel.

Kerja sama finansial Iran dan Rusia kemudian terus diperkuat melalui pembentukan mekanisme perbankan baru. Kedua negara sepakat mengaktifkan komite perbankan permanen untuk mempercepat pelaksanaan program kerja sama keuangan dan perdagangan bilateral.

Teheran dan Moskow juga mendorong penggunaan mata uang nasional dalam transaksi perdagangan. Strategi ini dinilai dapat menekan biaya transaksi sekaligus menciptakan jalur pembayaran yang lebih independen dari sistem keuangan negara ketiga.

Penguatan hubungan tersebut berlangsung ketika Iran dan Rusia sama-sama menghadapi tekanan sanksi Barat. Bagi kedua negara, penggunaan rial dan rubel dalam perdagangan menjadi salah satu cara untuk menjaga kelancaran transaksi sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS.