Atasi Kekeringan, Kementan Siapkan Sumur Bor untuk Sawah Majalengka
Majalengka, DARIM.ID – Kementerian Pertanian (Kementan) menyiapkan pembangunan sumur bor untuk mengatasi kekeringan yang melanda lahan pertanian di Kecamatan Lemahsugih, Kabupaten Majalengka. Langkah tersebut dilakukan setelah tim Kementan bersama pemerintah daerah melakukan verifikasi kondisi lapangan dan menemukan keterbatasan akses air sebagai kendala utama bagi petani di wilayah tersebut. Aksi cepat ini merupakan tindak lanjut atas aduan masyarakat melalui kanal Lapor Amran terkait kondisi kekeringan lahan pertanian di wilayah tersebut.
Peninjauan dilakukan oleh Direktorat Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian (Ditjen LIP) melalui Balai Pengelolaan Lahan dan Irigasi Pertanian (BPLIP) Kelas I Bandung bersama Dinas Pertanian Kabupaten Majalengka pada hamparan sawah sekitar 80 hektare yang dikelola empat kelompok tani di Blok/Dusun Bantarmerak, Desa Mekarwangi, Kecamatan Lemahsugih, Selasa (29/9).
Hasil verifikasi menunjukkan kendala utama berada pada kondisi topografi lahan yang terasering dan curam serta elevasi yang tinggi. Kondisi tersebut membuat sumber air permukaan dari sungai di bagian bawah sulit dialirkan ke lahan pertanian di bagian atas.
Sebagai solusi, Kementan menyiapkan irigasi perpompaan berbasis sumur bor dan pompa submersible pada titik lokasi dengan elevasi lebih tinggi. Pilihan tersebut disusun berdasarkan hasil verifikasi dan diskusi bersama kelompok tani dengan mempertimbangkan efektivitas pengairan serta biaya operasional yang harus ditanggung petani.
Langkah tersebut sejalan dengan arahan Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman agar setiap ancaman kekeringan segera ditangani sebelum berdampak terhadap produksi. Dalam publikasi resmi Kementan pada Juli 2026, Amran menegaskan bahwa seluruh jajaran harus bergerak cepat ketika terdapat ancaman kekeringan.
“Kita tidak boleh terlambat. Begitu ada ancaman kekeringan, banjir, atau serangan organisme pengganggu tanaman, seluruh jajaran harus bergerak cepat melakukan mitigasi. Produksi harus kita amankan karena menyangkut ketahanan pangan nasional,” tegas Mentan Amran.
Mentan Amran juga sebelumnya menegaskan bahwa pemerintah tidak boleh menunggu hingga lahan mengalami kekeringan parah. Dalam penanganan kekeringan di Subang, Kementan menekankan percepatan penyediaan sumber air melalui pompanisasi agar petani tidak kehilangan musim tanam.
“Kita harus bergerak sebelum kekeringan meluas. Jangan sampai petani kehilangan musim tanam,” ujar Mentan Amran.
Perwakilan BPLIP Kelas I Bandung, Hasyim, mengatakan tim bersama kelompok tani telah mengidentifikasi alternatif pengairan yang paling memungkinkan sekaligus efisien dari sisi biaya operasional petani.
“Hasil diskusi dan verifikasi lapangan bersama kelompok tani menunjukkan bahwa pengangkatan air dari sungai menggunakan pompa permukaan biasa kurang efisien karena membutuhkan beberapa tahap pumping akibat elevasi lahan yang curam,” ujar Hasyim.
Menurutnya, penggunaan pompa permukaan secara berjenjang akan membebani petani dari sisi kebutuhan bahan bakar dan biaya operasional harian. Karena itu, solusi yang disiapkan adalah pembangunan irigasi perpompaan berbasis sumur bor dan pompa submersible pada titik lokasi dengan elevasi lebih tinggi.
“Dalam satu hingga tiga hari ke depan, kami menugaskan tim untuk uji geolistrik guna memastikan ketersediaan air tanah serta menghitung Rencana Anggaran Biaya (RAB) agar kegiatan fisik ini dapat segera dieksekusi,” jelas Hasyim.

Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan Kabupaten Majalengka, Gugun Sukma Gumilar, mengatakan kolaborasi tersebut menjadi langkah konkret untuk menjaga lahan pertanian masyarakat tetap produktif.
“Kondisi di Dusun Bantarmerak ini sebenarnya memiliki potensi budidaya pertanian yang sangat besar, khususnya tanaman padi. Kendalanya adalah sumber air tidak sampai ke lahan karena lokasinya terlalu jauh dan curam,” ujarnya.
Dari total 80 hektare lahan terdampak, sekitar 60 hektare telah mulai mendapatkan aliran air melalui kegiatan irigasi perpipaan yang diperoleh tahun ini, termasuk untuk Kelompok Tani Cihike. Sementara lahan yang belum teraliri akan difasilitasi melalui percepatan pembangunan irigasi perpompaan berbasis sumur bor dan pompa submersible.
Ketua Kelompok Tani Cihike, Nur Hamad, mengatakan wilayah Bantarmerak memiliki potensi indeks pertanaman yang tinggi. Pada musim tanam pertama dan kedua, kegiatan pertanian berjalan kondusif, sementara pada musim tanam ketiga wilayah tersebut dikenal sebagai salah satu sentra kedelai di Kecamatan Lemahsugih.
Namun, kondisi cuaca ekstrem tahun ini menyebabkan debit air menyusut tajam sehingga petani mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan air pertanaman.
“Kami sangat berterima kasih atas respons langsung dari Kementerian Pertanian dan Dinas Pertanian. Kami siap mendampingi proses pengecekan geolistrik minggu ini dan berharap sumur bor ini menjadi jalan keluar agar petani bisa kembali berproduksi hingga masa tanam ketiga,” ungkap Nur.
Penggerak Masyarakat Tani Bantarmerak, Usup Supriadi, juga mengapresiasi respons cepat pemerintah setelah masyarakat menyampaikan aduan melalui kanal Lapor Amran.
“Alhamdulillah, begitu kami menyampaikan laporan, tim dari pusat dan daerah langsung merespons dan turun ke lokasi. Hadirnya solusi sumur bor di titik atas ini sangat melegakan masyarakat. Ketersediaan air ini menjadi tumpuan utama agar kawasan Bantarmerak bisa semakin subur dan petani semakin sejahtera,” tuturnya.
Penanganan kekeringan di Majalengka tersebut memperkuat upaya Kementan dalam menyediakan sumber air bagi lahan pertanian sesuai dengan kondisi riil di lapangan. Selain pompanisasi untuk wilayah yang memiliki akses terhadap air permukaan, pembangunan sumur bor disiapkan untuk membantu lahan yang terkendala akses air akibat kondisi topografi dan elevasi.


