BERITA TERBARU
Kemenpar dan KJRI Hong Kong Dukung Greater Bay Airlines Buka Rute Hong Kong-Surabaya Suarakan Kepentingan Perdagangan Nasional,Mendag Busan Bertolak ke AS Hadiri G20 Harga iPhone Naik Signifikan! Inilah Penyebab dan Dampaknya bagi Konsumen Cara Mudah Move On! Lepaskan Lalu, Buka Lembaran Baru Seiring Hari Pariwisata Dunia, Menteri Pariwisata Luncurkan Indonesia Tourism Outlook 2026/2027 Kini Cetak SIM Cukup di Kios SIM, Cepat, Praktis, Tanpa Antre Panjang Taman Bunga Celosia Semarang, Pesona Warna yang Menggugah Senyum Kota Buka Pelatihan SSTC 2026, Kemendag Dorong Penguatan Kemitraan Perdagangan dan Investasi Indonesia–Afrika Ketegangan Meningkat! Iran Mulai Langkah Balasan, Inggris Diduga Jadi Sasaran Pemutihan Pajak 2026! Kesempatan Emas Tertibkan Kewajiban Negara
OPINI

Membaca Sejarah Prostitusi

Membaca Sejarah Prostitusi
dok. Ilustrasi

Ada kesan tertentu yang hanya diberikan oleh buku-buku tua: seolah pembaca baru saja keluar dari ruangan yang jendelanya tertutup bertahun-tahun, dan cahaya yang menampar mata itu datang dari dunia yang sudah lama tiada. Begitulah kira-kira yang ku rasakan ketika menutup halaman terakhir The History of Prostitution: Its Extent, Causes, and Effects throughout the World karya William Wallace Sanger, buku sejarah prostitusi yang diterbitkan di New York pada 1858 oleh Harper & Brothers. Judulnya panjang dan sombong, kadarnya ilmiah, tetapi isinya kumpulan nasib — ribuan nasib perempuan yang oleh kotanya dibiarkan hidup di tepi.

Sanger bukan pengelana yang menulis dari kursi malasnya. Ia dokter, dokter resmi di Blackwell’s Island, pulau tempat kota New York menempatkan apa yang tak ingin dilihat orang: tahanan, penghuni rumah sakit jiwa, orang-orang miskin yang menunggu ajal. Di sanalah ia bekerja, mengamati, dan mencatat. Atas permintaan para pembesar kota, ia menyusun laporan resmi tentang prostitusi. Pekerjaan itu dimulai pada 1856 — bertahun-tahun kuesioner, wawancara, dan perhitungan — menyapu sekitar dua ribu perempuan yang lalu tercatat dalam angka-angka: umur, asal, pekerjaan sebelumnya, sebab mereka jatuh. Dari pulau itu pula bukunya mengembangkan sayap: dari Yunani dan Romawi kuno, Persia, India, hingga kota-kota Eropa dan Amerika pada masanya sendiri.

Membacanya, kita diajak menyaksikan usaha yang hampir mustahil: mengukur sesuatu yang sengaja tak mau diukur. Negara menghendaki dosa itu tak terlihat, tetapi Sanger, dengan lentera statistiknya, menyinari persis ruangan yang dipilih masyarakat untuk gelap. Buku ini lahir dari kandang manusia yang dilupakan, dan justru dari sana ia menjadi salah satu catatan paling rinci tentang perempuan yang tak pernah dihitung siapa pun. Itu keistimewaan yang jarang: sejarah yang ditulis dari lantai bawah, meski penanya dipegang orang lantai atas.

Dosa yang Dihitung

Di halaman-halamannya, prostitusi hampir selalu menyandang gelar yang berat: social evil, penyakit masyarakat. Perempuan yang menjual tubuhnya dipandang sebagai sumber dosa yang harus dijauhi; rumah-rumah bordil diperlakukan sebagai sarangnya, tempat yang sepatutnya dihindari orang sopan. Nama mereka dihapus dari ingatan; tubuh mereka diperhitungkan dalam angka. Mereka bukan subyek yang diharapkan hadir dalam percakapan yang baik. Keberadaan mereka dipungkal, disembunyikan, lalu disesalkan — dalam urutan yang sama, ribuan tahun, di hampir semua peradaban yang dilalui Sanger.

Yang menarik, Sanger beberapa kali menyinggung kemunafikan ini di tengah masyarakat Barat yang merasa dirinya paling maju — masyarakat yang mengaku bebas nilai dan liberal. Justru di sanalah stigma tetap hidup utuh. Perempuan di bordil dijauhi seperti wabah, padahal para pelanggannya datang dari kalangan yang sama yang kemudian menutup pintu untuk mereka. Dosa hanya dijatuhkan pada satu pihak; pihak lain pulang membawa rahasia, disambut keluarga, dan disegani pagi harinya. Kota menghukum perempuan yang diperalat oleh kota itu sendiri.
Sanger kadang melampaui zamannya. Ia menanyakan sebab — kemiskinan, kehilangan pekerjaan, keluarga yang pecah, kota yang menelan buruh muda tanpa perlindungan — bukan sekadar menyalahkan. Karena itu ia kerap disebut lebih simpatik daripada kebanyakan dokter dan hakim zamannya.

Tetapi pembaca hari ini tetap merasakan lantai yang miring: buku ini menghitung manusia dengan teliti sambil memandangnya lewat kaca yang berkabut oleh moral abad kesembilan belas. Perempuan dalam angka-angkanya hampir tak pernah berbicara; yang bicara adalah kuesioner, dokter, dan petugas. Bahkan upaya paling ilmiah sekalipun tak pernah sepenuhnya bebas dari nilai yang menindihnya — dan di situlah pembaca belajar membaca sumber dengan kecurigaan yang sehat.

Babak Baru

Potret prostitusi dalam buku Sanger membuka celah penulisan sejarah yang lebih luas daripada sekadar catatan moral. Di balik kamar-kamar bernomor itu, ada ekonomi yang berputar: sewa kamar dan pakaian, utang yang tak kunjung lunas, perantara yang menagih, uang yang mengalir ke saku-saku yang tak pernah tercantum dalam buku kas kota. Ada penegakan hukum yang berpilih-pilih: razia yang datang dan pergi mengikuti musim politik, pengadilan yang menghukum yang lemah, peraturan yang ditegakkan sambil mata pejamu sebelah. Dan di atas semuanya ada jejaring kuasa — tuan tanah, polisi, pejabat, bahkan keluarga-keluarga baik — yang hidup tenang karena melindungi bisnis ini dari jauh, tanpa pernah menyebut namanya.

Lalu, ada mereka yang nyaris tak pernah masuk catatan sejarah: para konsumen, yang kehadirannya selalu ada tetapi tak pernah dipertanyakan. Sejarah selama ini rajin menuliskan perempuan yang dijual; belum banyak yang menuliskan laki-laki yang membeli, dan rezim yang menghitung untung dari pertemuan keduanya. Padahal di situlah pertanyaan-pertanyaan sejarah paling tajam bersembunyi: siapa yang boleh jatuh, siapa yang harus tampak suci, dan siapa yang mengatur agar kedua ketentuan itu tak pernah bertabrakan.

Membaca Sanger, akhirnya, adalah belajar, bahwa sumber paling gelap bisa menerangi paling banyak. Berkas-berkas yang ditulis para petugas, dokter, dan hakim tentang orang-orang paling tak berdaya — kalau dibaca dengan teliti dan dengan kecurigaan yang sehat — dapat menghadirkan kembali suara yang dulu dihapus.
Kita yang menulis tentang bordil, pelabuhan, dan kota sesungguhnya menulis tentang struktur: siapa menguasai tubuh, siapa menetapkan harga, siapa membungkam. Sejarah prostitusi ternyata bukan sejarah tentang dosa, melainkan sejarah tentang siapa yang berkuasa menetapkan dosa itu — dan siapa yang selalu siap membayarnya.