Robot Humanoid Berlutut Ngemis di Jalanan China, Minta Uang Isi Daya Lewat Kode QR
Sebuah pemandangan ganjil sekaligus mengundang perhatian terjadi di trotoar Kota Chengdu, Provinsi Sichuan, Tiongkok. Sebuah robot humanoid terlihat berlutut di tepi jalan, melipat kedua tangan di depan dada seolah-olah sedang memohon sumbangan kepada pejalan kaki. Di depannya tersedia piring kecil untuk menerima uang koin tunai, serta selembar kertas berisi kode QR pembayaran nontunai. Tak hanya itu, layar LED dan pengeras suara yang ditempatkan di dekatnya terus memutar pesan berulang: “Saya kehabisan uang untuk mengisi ulang baterai, tolong bantu bayar tagihan listrik.” Pemandangan yang tak lazim ini pun langsung menyebar luas dan menjadi viral di media sosial.
Robot yang tampak “mengemis” tersebut diidentifikasi sebagai Unitree G1, robot humanoid buatan perusahaan teknologi asal Tiongkok, Unitree Robotics. Robot setinggi 1,27 meter dengan berat sekitar 35 kilogram itu dipasarkan dengan harga sekitar 99.000 Yuan atau setara Rp 218 juta. Hingga kini belum diketahui pihak mana yang meletakkan robot tersebut di jalanan, namun diduga kuat merupakan bagian dari demonstrasi atau aksi promosi produk.
Peristiwa ini terekam dalam sebuah video yang beredar luas sejak Juni 2026. Rekaman tersebut kemudian kembali menyebar dan menjadi perbincangan hangat di berbagai belahan dunia pada awal September 2026. Seluruh kejadian berlangsung di trotoar salah satu jalan raya di Kota Chengdu, Provinsi Sichuan, Tiongkok.
Belum ada penjelasan resmi mengenai alasan robot tersebut diletakkan di jalanan untuk meminta sumbangan. Namun para pengamat menduga aksi itu kemungkinan besar merupakan bentuk demonstrasi kemampuan sekaligus promosi untuk membuktikan bahwa robot buatan mereka mampu berinteraksi secara meyakini dengan manusia di ruang publik. Di sisi lain, fenomena ini juga memicu perdebatan di media sosial: sebagian orang merasa lucu dan ikut menyumbang, sementara yang lain mengkritik karena dianggap tidak pantas meminta bantuan untuk mesin canggih padahal masih banyak manusia yang membutuhkan.
Robot itu diposisikan berlutut di tepi trotoar. Setiap kali ada pejalan kaki lewat, robot menggerakkan kedua tangannya seakan bersalaman atau memohon. Pesan suara terus terdengar meminta bantuan biaya pengisian daya. Warga yang lewat pun beragam reaksinya: ada yang berhenti memotret, ada yang melempar koin ke piring kecil, dan tak sedikit yang memindai kode QR untuk memberikan sumbangan secara digital. Meski tampak seolah-olah robot itu bertindak atas kemauannya sendiri, para ahli menegaskan seluruh gerakan dan pesan tersebut sudah diprogram sebelumnya dan dikendalikan dari jarak jauh oleh operator manusia.
Dikutip dari Kumparan, bahwa hingga kini belum diketahui motif di balik aksi robot tersebut, apakah bagian dari proyek seni instalasi, strategi pemasaran kreatif, eksperimen sosial, atau sekadar pertunjukan pribadi.
Fenomena robot mengemis di jalanan ini pada akhirnya menyisakan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban, dan kemajuan teknologi sehebat apa pun tetap harus ditempatkan pada porsi yang tepat agar tidak justru membalikkan tatanan nilai kemanusiaan yang seharusnya tetap menjadi yang utama.


