BERITA TERBARU
Wali Kota Saint-Denis Lindungi Pelajar dari Polisi, Ikut Disasar Gas Air Mata Dikepung Pangkalan Militer Asing, Ini Alasan Djibouti Jadi Rebutan Negara Besar Kemnaker Uji Coba Pelatihan Terhubung Industri untuk Tekan Kesenjangan Kompetensi Di Tengah Ketidakpastian Global, Pariwisata Indonesia Catat Pertumbuhan Wisman dan Wisnus BP Tapera Perkuat Kolaborasi Lintas Kementerian/Lembaga untuk Percepatan Pembangunan Perumahan Nasional Biaya Haji 2027 Turun, Jemaah Cukup Lunasi Rp23,24 Juta Mentan Amran Pastikan Produksi Pangan Tetap Aman di Tengah Tantangan Iklim 38 UMKM Binaan Pertamina Bidik Pasar Lebih Luas di INACRAFT October 2026 Tinjau KSPEAN Wanam, Menteri Dody Pastikan Panen Perdana Dukung Visi Presiden Prabowo UU Pelindungan Ketenagakerjaan Untuk Pekerja yang Lebih Adil, Aman dan Sejahtera
INTERNASIONAL

Dikepung Pangkalan Militer Asing, Ini Alasan Djibouti Jadi Rebutan Negara Besar

Dikepung Pangkalan Militer Asing, Ini Alasan Djibouti Jadi Rebutan Negara Besar
dok. CNN Indonesia

Djibouti menjadi salah satu negara yang memiliki posisi strategis dalam persaingan geopolitik dunia. Negara kecil di kawasan Tanduk Afrika itu menjadi lokasi pangkalan militer sejumlah negara asing yang ingin mengamankan kepentingan keamanan dan perdagangan internasional.

Djibouti memiliki luas sekitar 23.200 kilometer persegi dengan jumlah penduduk sekitar satu juta jiwa. Meski wilayahnya relatif kecil, posisi geografis negara tersebut sangat penting karena berada di dekat Selat Bab el-Mandeb, jalur pelayaran yang menghubungkan Teluk Aden dengan Laut Merah.

Lokasi tersebut membuat Djibouti menjadi incaran negara-negara besar yang ingin memperkuat kehadiran militernya di kawasan Afrika, Timur Tengah, hingga Indo-Pasifik.

Sejumlah negara yang memiliki fasilitas militer di Djibouti antara lain Amerika Serikat, China, Jepang, Prancis, Italia, Jerman, dan Spanyol. Arab Saudi juga disebut dalam daftar negara yang berupaya membangun kehadiran militer di negara tersebut.

Kehadiran berbagai negara itu menjadikan Djibouti sebagai pusat persaingan pengaruh internasional. Fasilitas yang dibangun mencakup pangkalan militer, pelabuhan, pusat logistik, hingga fasilitas pendukung operasi udara dan laut.

Presiden Djibouti Ismail Omar Guelleh memanfaatkan posisi strategis negaranya untuk menarik investasi sekaligus memperkuat hubungan dengan berbagai kekuatan dunia. Ia telah memimpin negara tersebut sejak 1999.

Bagi Djibouti, keberadaan pangkalan militer asing tidak hanya berkaitan dengan pertahanan. Kerja sama tersebut juga membuka peluang pemasukan ekonomi dan investasi infrastruktur, sekaligus meningkatkan posisi tawar negara itu di panggung internasional.

Federico Donelli, penulis buku Power Competition in the Red Sea, menjelaskan pentingnya kawasan tersebut bagi berbagai kepentingan global.

“Kawasan ini berada di pusat banyak hal, mulai dari perdagangan global, pelayaran, hingga konektivitas serat optik, energi, dan terkait dengan Terusan Suez, Indo-Pasifik,” kata Donelli kepada Al Jazeera.

Selat Bab el-Mandeb yang memisahkan Djibouti dan Yaman juga menjadi jalur penting bagi distribusi energi dan barang internasional. Jalur tersebut dilalui jutaan barel minyak mentah dan produk minyak bumi olahan setiap hari.

Selain itu, sekitar 12 persen perdagangan maritim global disebut melewati selat tersebut. Kabel bawah laut yang menghubungkan Eropa dan Asia juga menjadikan kawasan ini penting bagi konektivitas internet dunia.

Strategi Djibouti mencerminkan diplomasi negara kecil, yakni memanfaatkan keunggulan geografis untuk menjaga kepentingan nasional di tengah persaingan negara-negara besar.

Namun, banyaknya kepentingan militer asing juga menempatkan Djibouti di tengah rivalitas geopolitik yang berpotensi memengaruhi stabilitas kawasan Laut Merah dan sekitarnya.