BERITA TERBARU
Kemenpar dan KJRI Hong Kong Dukung Greater Bay Airlines Buka Rute Hong Kong-Surabaya Suarakan Kepentingan Perdagangan Nasional,Mendag Busan Bertolak ke AS Hadiri G20 Harga iPhone Naik Signifikan! Inilah Penyebab dan Dampaknya bagi Konsumen Cara Mudah Move On! Lepaskan Lalu, Buka Lembaran Baru Seiring Hari Pariwisata Dunia, Menteri Pariwisata Luncurkan Indonesia Tourism Outlook 2026/2027 Kini Cetak SIM Cukup di Kios SIM, Cepat, Praktis, Tanpa Antre Panjang Taman Bunga Celosia Semarang, Pesona Warna yang Menggugah Senyum Kota Buka Pelatihan SSTC 2026, Kemendag Dorong Penguatan Kemitraan Perdagangan dan Investasi Indonesia–Afrika Ketegangan Meningkat! Iran Mulai Langkah Balasan, Inggris Diduga Jadi Sasaran Pemutihan Pajak 2026! Kesempatan Emas Tertibkan Kewajiban Negara
OPINI

Dosen, Derita dan Doa

Dosen, Derita dan Doa
dok. Gemini

Ada masa ketika menjadi dosen adalah sebuah kebanggaan yang sulit digantikan oleh profesi lain. Sebutan “Pak Dosen” atau “Bu Dosen” membawa wibawa tersendiri. Ia bukan sekadar pekerjaan, melainkan simbol pengetahuan, pengabdian, dan kehormatan intelektual. Namun, hari ini kisah tentang dosen di Indonesia perlahan berubah menjadi cerita yang getir. Di balik ruang kelas yang penuh diskusi dan penelitian yang mengejar kebaruan, ada kehidupan para dosen yang berjalan dengan banyak pertanyaan tentang kesejahteraan, masa depan, dan penghargaan terhadap profesinya.

Dosen hari ini diminta menjadi manusia dengan banyak tangan. Ia harus mengajar dengan kualitas tinggi, melakukan penelitian yang produktif, mengabdi kepada masyarakat, membimbing mahasiswa, mengejar publikasi ilmiah, mengurus administrasi akademik, hingga mengikuti berbagai tuntutan birokrasi yang terus bertambah. Semua itu dirangkum dalam satu kata yang sering diucapkan dengan penuh kebanggaan: tridarma perguruan tinggi.

Di sisi lain, kata yang terdengar mulia itu terkadang menyimpan ironi. Negara menuntut dosen menghasilkan pengetahuan, tetapi belum selalu memastikan kehidupan yang layak bagi para penghasil pengetahuan tersebut, terutama bagi dosen di perguruan tinggi swasta.

Masih Berjuang

Di banyak kampus swasta, dosen masih harus berjuang antara idealisme akademik dan realitas ekonomi. Mereka diminta mencetak generasi unggul, sementara sebagian dari mereka sendiri masih harus memikirkan biaya hidup sehari-hari. Mereka berbicara tentang inovasi di depan mahasiswa, tetapi diam-diam menghitung kebutuhan rumah tangga di akhir bulan. Mereka mengajarkan tentang masa depan, tetapi sering tidak memiliki kepastian tentang masa depan mereka sendiri.

Padahal, sejarah pernah menempatkan dosen pada posisi yang sangat terhormat. Pada dekade 1990-an, dosen dianggap sebagai salah satu simbol intelektualitas masyarakat. Ketika ada persoalan sosial, ekonomi, atau politik, suara dosen sering menjadi rujukan. Rumah seorang dosen sering menjadi tempat masyarakat mencari penjelasan. Kampus menjadi ruang di mana ilmu pengetahuan bertemu dengan kegelisahan publik. Dosen dipandang sebagai manusia yang menyimpan banyak jawaban di kepalanya.

Menjadi dosen juga bukan perjalanan yang mudah. Gelar master dan doktor yang melekat di belakang nama bukan sekadar rangkaian huruf akademik. Di balik gelar tersebut terdapat perjalanan panjang yang penuh pengorbanan. Ada malam-malam panjang membaca literatur, penelitian yang gagal berkali-kali, tekanan akademik, serta perjuangan finansial yang tidak sedikit. Bagi mereka yang berasal dari keluarga sederhana, pendidikan tinggi bukan jalan yang tersedia secara otomatis. Banyak yang harus bergantung pada beasiswa, bekerja sambil belajar, dan menempuh perjalanan akademik dengan segala keterbatasan.

Namun, hari ini jabatan dosen menghadapi paradoks yang semakin nyata. Masyarakat masih memberikan penghormatan terhadap gelar dan profesinya, tetapi sistem belum sepenuhnya memberikan penghargaan yang sepadan. Dosen dihormati secara simbolik, tetapi sering diuji secara material. Mereka diminta menjadi penjaga moral akademik, tetapi kesejahteraan mereka belum selalu menjadi perhatian utama.

Paradigma Berbenah

Karena itu, pemerintah perlu mengubah cara pandang terhadap dosen. Dosen bukan sekadar tenaga pengajar yang mengisi jadwal kuliah. Mereka adalah investasi intelektual bangsa. Negara yang ingin membangun ekonomi berbasis pengetahuan harus terlebih dahulu memastikan bahwa para pengelola pengetahuan memiliki ruang tumbuh yang layak.

Ada setidaknya tiga langkah penting yang harus dilakukan. Pertama, membuka peluang pengembangan diri dosen secara lebih luas dan berkelanjutan. Pendidikan doktoral harus menjadi kesempatan yang dapat diakses lebih banyak dosen, bukan hanya bagi mereka yang memiliki kemampuan finansial tertentu. Program pengembangan akademik seperti postdoctoral fellowship di universitas ternama dunia juga perlu diperluas. Dosen membutuhkan ruang untuk memperbarui ilmu, memperluas jaringan akademik, dan membawa pengetahuan baru kembali ke Indonesia.

Kedua, negara perlu memperhatikan persoalan kesejahteraan dosen, terutama dosen perguruan tinggi swasta. Tidak semua dosen bekerja dalam sistem yang memberikan keamanan finansial memadai. Jika negara berharap dosen menghasilkan penelitian berkualitas, membimbing mahasiswa dengan baik, dan membangun reputasi akademik Indonesia, maka negara juga harus memastikan mereka memperoleh pendapatan yang layak.

Ketiga, setelah sistem memberikan ruang tumbuh dan kesejahteraan yang lebih baik, dosen juga harus melakukan otokritik. Gelar akademik bukan mahkota yang membuat seseorang berhenti belajar. Jabatan dosen bukan tempat untuk berlindung dari perubahan zaman. Dosen harus terus memperbaiki diri, memperbarui pengetahuan, menjaga integritas ilmiah, dan menghadirkan pendidikan yang benar-benar membentuk manusia.

Sebab pada akhirnya, persoalan dosen bukan hanya tentang gaji, tunjangan, atau fasilitas akademik. Persoalan terbesar adalah bagaimana bangsa ini menghargai ilmu pengetahuan. Sebuah negara yang ingin maju tidak mungkin membangun masa depan dengan mengabaikan orang-orang yang bertugas menyiapkan masa depan itu sendiri.

Dosen bukan sekadar pengajar di ruang kelas. Mereka adalah penjaga peradaban kecil yang bekerja dalam sunyi. Namun, kesunyian itu tidak boleh menjadi alasan bagi negara untuk melupakan mereka. Sebab ketika seorang dosen kehilangan harapan, yang sesungguhnya ikut kehilangan masa depan adalah generasi yang mereka didik.